Tiap peribahasa ini memiliki makna yg dalam. Tapi apakah tiap peribahasa itu bisa dimaknai sesuai dengan zamannya? Atau bahkan maknanya bisa berubah, tergantung siapa yang memberi tafsiran? Bagaimana menurut Anda?
Saya yakin akan seru kalau kita berbicara ttg ini: witing trisno jalaran soko kulino. Tp kali ini saya mau membahas dulu apa makna yg ada dalam peribahasa Jawa: “mikul dhuwur” “mendem jero”. Salah satu dari 14 prinsip filosofi jawa.
Menurut buku pepak boso jowo dan sapolo boso (ini bukan kitab suci orang Jawa kuno, ini buku pegangan untuk pelajaran Bhs Daerah Jawa saat masih SD-SMP ) adalah menghormati pemimpin atau keluarga dengan mengenang jasanya dan menutupi keburukannya. Jadi orang Jawa dengan “mikul dhuwur” mendem jero-nya berusaha menanamkan nilai betapa pentingnya menjaga nama baik keluarga, kelompok, atau pun bangsanya.
Mikul Dhuwur
Frasa “mikul dhuwur” arti konotasinya kira-kira memikul/menjunjung setinggi-tingginya. Makna yang terkandung di dalamnya adalah hendaknya setiap anggota keluarga- suku, bangsa, atau jenis kumpulan manusia lainnya- menjunjung tinggi–setinggi-tinggnya nama baik kelompok di muka umum. Hal ini bisa diartikan dengan mengekspos dan menghormati keunggulan-keunggulan kelompok di depan khalayak ramai.
Konotasi Positif
Konsep “mikul dhuwur” seperti di atas rupanya juga dipake oleh negara-negara dalam lingkup hubungan luar negeri mereka. Ambil contoh Indonesia dengan “Visit Indonesia 2008″ atau Malaysia dengan jargon “Malaysia truly Asia”. Itu contoh politik luar negeri dua bangsa rumpun melayu dalam bidang pariwisata.
Konotasi Negatif
“Mikul dhuwur” juga diterapkan dalam bidang perfilman. Contohnya tiap seri film Rambo (jadi ingat Rambo IV yang sadis ). Apapun lawannya, berapapun jumlahnya, hollywood dengan Rambo-nya ingin menunjukkan bahwa Amerika adalah bangsa yang perkasa. Kita juga bisa melihat hal sejenis di berbagai film hollywood.
Kita coba kembali ke masa lalu. Di kala Soviet masih pantas disebut berjaya. Di kala itu pula dua adikuasa mencoba me-”mikul dhuwur” ketenaran kekuatannya. Adu uji coba rudal antara USSR dan USA bukan hal yg aneh waktu itu. Ingat pula siapa yg pertama kali mengeksplorasi ruang angkasa?! Ya… seorang kosmonot Soviet. Sebuah usaha dari pemerintah Soviet untuk me-”mikul dhuwur” martabat bangsanya.
Amerika Serikat tak mau kalah. Bila Soviet menjelajahi langit, maka Amerika menjelajahi bawah laut… yang kala itu sama misteriusnya dengan ruang angkasa. Tujuannya pun sama, “mikul dhuwur” bangsanya.
Ribuan contoh akan kita temukan tentang usaha suatu negara untuk menjunjung tinggi martabat rakyat atau pemimpinnya. Tentu masih ingat dengan gelar Pemimpin Besar Revolusi, Bapak Pembangunan, Panglima Besar, dll. Bahkan tujuan pembuatan Curiculum Vitae pun adalah untuk “mikul dhuwur” di pemilik CV.
Dan… orang Jawa membahasakan itu semua dalam frasa “mikul dhuwur“. (mungkin di budaya lain prinsip seperti ini juga ada, hanya saja saya tidak tahu).
Mendem Jero
Beralih ke pasangan “mikul dhuwur“. Frasa “mendem jero” kira-kira arti konotasinya memendam/mengubur sedalam-dalamnya. Memendam/menutupi segala keburukan, aib, dan kelemahan. Dalam konotasi positif, “mendem jero” dimaknai sebagai usaha untuk menjaga nama baik keluarga, orang tua, masyarakat, atau jenis kelompok manusia lainnya.
“Mendem jero” dalam konotasi negatif bisa dimaknai menutupi kekurangan yang seharusnya diketahui orang (yang seharusnya transparan).
Berbincang mengenai tutup-menutup keburukan, saya jadi teringat istilah ghibah. Saya yakin banyak yg tau apa itu ghibah. Ghibah dalam bahasa Jawa artinya ngrasani. Dalam bahasa Indonesia bisa diartikan membicarakan keburukan orang. Dalam kaidah bahasa Arab, ghibah itu tidak sekedar membicarakan keburukan orang. Disebut ghibah ketika orang yang dibicarakan tidak mau keburukannya diketahui orang lain atau tujuan pembicaraan tersebut bukan untuk mencari solusi.
Oleh karena itu, bukan disebut ghibah bila membicarakan orang yang bangga dengan keburukannya (agul ku payung butut kata orang Sunda) atau setidaknya tidak malu akan keburukan tersebut. Atau bila kita membahas keburukan tersebut untuk mencari solusi.
Kembali ke “mendem jero“. Prinsip “mendem jero” mengajarkan pada kita menutupi aib yang kita miliki. Di mana aib tersebut memang tak perlu diketahui orang lain. Misalnya mungkin Anda (bukan saya… hehe ) masih suka ngompol pada umur setua ini. Aib tersebut tak perlu diketahui orang lain. Apa lagi ditulis di CV . Membohongi masyarakat kah??! Tentu tidak. Kita tidak berbohong. Kita hanya tidak mengatakan seluruh kenyataan. Toh kenyataan tersebut tidak “merugikan” siapa pun.
Jadi teringat email dari seorang saudara perempuan di milis csui05 kemarin. Email tentang “keharusan” menutupi aib. Email tersebut menyebutkan bahwa Rosulullah (semoga sholawat dan salam tetap tercurah pada beliau) berwasiat kepada Saidina Ali bin Abi Tholib ra. Dalam wasiat tersebut (pada salah satu bagiannya) Rosulullah SAW mengatakan bahwa ada 3 ciri orang yang JUJUR:
1. Merahasiakan ibadahnya.
2. Merahasiakan sedekahnya.
3. Merahasiakan ujiannya yang menimpa kepadanya.
Catatan penulis : Karena orang jujur kemungkinan kecil menerima adzab maka keburukan-keburukan yang dimilikinya merupakan bagian dari ujian. Dan… sanad dari hadist tersebut tidak dicantumkan. Jadi meskipun (menurut saya) makna dari hadist tersebut luar biasa, hadist tersebut tidak bisa dijadikan dasar hukum untuk mengambil keputusan.
Inti dari menutup aib (mendem jero) adalah jangan ceritakan keburukan (kita, teman, keluarga) pada orang lain yang tidak berkepentingan dengan hal tersebut. Salah satu dua contoh yang berkepentingan di sini misalnya orang yang kita yakin bisa memberi solusi terhadap aib tersebut atau kepada orang yang akan kita pinang untuk jadi pasangan hidup(kan terus terang luar dalam… ).
“Mikul dhuwur mendem jero“. Adalah salah satu produk bangsa kita yang mengajarkan untuk menjunjung tinggi kehormatan dengan mengemukakan keunggulan dan menutupi keburukan. Saya yakin bahwa di setiap akar budaya suku manapun di Indonesia pasti tersimpan nilai-nilai yang luar biasa. Adakah yang mau berbagi ilmu tentang nilai-nilai itu??
Nah, kalau begitu. Mulai sekarang mari kita “mikul dhuwur “mendem jero” marang bansane” — menjunjung tinggi kehormatan bangsa kita-Indonesia. Saatnya tunjukkan pada dunia bahwa kita memang bangsa yang besar. Ok…!
Minggu, 06 Juli 2008
Mikul Dhuwur Mendem Jero
Diposting oleh Pendekar Alaska di 04.42 0 komentar
Label: Renungan
Sepi ing Pamrih Rame ing Gawe, Banter tan Mbancangi, Dhuwur tan Ngungkuli
Sekali lagi tentang peribahasa. Dan tentu saja Jawa (baru budaya Jawa yang saya pahami). Secara kata-perkata, “Sepi ing Pamrih, Rame ing Gawe, Banter tan Mbancangi, Dhuwur tan Ngungkuli” artinya sepi dalam pamrih, ramai(banyak/rajin) dalam bekerja, cepat tanpa mendahului, tinggi tanpa melebihi .
Benar-benar kaya bangsa ini akan nilai luhur. Kita, sebagai pewaris negeri (jadi ingat playlist ) cukup tinggal melaksanakan dan mewariskannya saja.
“Sepi ing pamrih rame ing gawe” menanamkan pada kita bahwa bekeja keras itu tak perlu banyak pamrih. Pamrih boleh ada, asalkan sepi-sepi saja dan gawe-nya banyak. Jadi, kalau mau bantu orang, tidak perlu memikirkan pamrih. Meninggalkan kesan baik pada orang yang kita bantu itu harganya jauh lebih luar biasa daripada pamrih yang kita harapkan.
Jadi teringat kata-kata ini, “Kami tidak mengharapkan sesuatu pun dari manusia. Tidak mengharap harta benda atau imbalan lainnya. Tidak juga popularitas. Apalagi sekedar ucapan terimakasih.” Terimakasih kepada Imam Hasan Al Banna atas nasihatnya.
Beberapa bulan lalu, saya pernah bantu setting modem broadband temen. Modemnya sih cupu, tetapi bagi orang-orang yang jarang mainan sama barang begituan, setting jadi kelihatan ribet. Dan alhamdulillah, dengan sedikit jurus (yang tidak) sakti, modem itu berhasil disetting di komputer .
Terus, satu bulan lalu, temen saya itu yang-modemnya-minta disetingin sms saya, “Mas, Bapak-X minta kamu telp. Ini nomornya”. Ngapain juga saya kudu nelpon, yang butuh kan dia. Begitu pikiran pertama keluar. Tapi, saya coba-coba aja meneladani Nabi SAW. Nyoba berbaik sangka dulu. Ya, saya telp Bapak-X tersebut. Akhir cerita, saya dapat informasi dan petuah yang sangat jitu.
Banter tan mbancangi, dhuwur tan ngungkuli mengajarkan kita supaya “sakti” tapi tetap rendah hati. Kalau kita pinter ya mbok jangan membuat orang lain merasa minder. Kalau hebat, mbok ya tetep bisa merakyat. Kalau jago, ya mbok jangan membuat kawan terlihat bodoh.
(Mungkin) salah satu contoh penggunaan pribahasa ini adalah saat berdiskusi/berdebat. Kutip ucapan orang yang menurut kita benar, pikirannya sejalan, atau menjadi sumber inspirasi dari kita. Insya Allah, hal itu akan menguatkan pendapat kita, membuat orang tersebut dihargai (karena kita mengutip pendapatnya), dan membuat orang tersebut tidak merasa diserobot karena kita mengkoar-koarkan gagasan yang sudah dia ajukan. Meskipun akhirnya penyampaian kita yang dianggap sebagai pembawa gagasan, orang yang mengusung opini perdana tersebut tidak akan tersinggung, insya Allah.
Masih ingat sejarah Fathul Makkah (pembebasan kota Makkah)? Pada saat kota Makkah sudah benar-benar ada dalam naungan Islam, Rosulullah Muhammad SAW berdiri di Masjidil Haram dan berkata bahwa barang siapa yang berada di rumahnya maka ia aman, barang siapa berada di rumah Abu Sofyan maka dia aman, barang siapa berada di Masjid Al Harom maka dia aman. Sedikit berpikir lebih dalam, mengapa nama Abu Sofyan di bawa-bawa. Padahal cukup dengan mengatakan bahwa siapa saja akan aman bial berada di dalam rumah ataupun Masjidil Harom. Mungkin, jawaban versi orang awam saya, Rosulullah SAW masih menghormati kedudukan Abu Sofyan di tengah masyarakat Qurasy. Beliau memang dengan tegas mengatakan bahwa saat itu, pemerintahan Makkah ada ditangan kaum Muslimin tetapi beliau juga tetap menjaga agar para pemimpin kota Makkah terdahulu tidak tercoreng mukanya. Sunggu contoh “penaklukan” yang indah. Penaklukan tanpa darah. Banter tan mbancangi, dhuwur tan ngungkuli.
Ya…, itu hanya pelajaran Ø(. . ) . Akan tetap jadi pelajaran kalau tidak diamalkan .
Semoga bermanfaat .
Diposting oleh Pendekar Alaska di 04.23 0 komentar
Label: Renungan
Brainware dan Heartware
Brainware
Teknologi terus berkembang, inovasi baru senantiasa dilahirkan, metode pengambilan keputusan pun juga semakin diperbaharui untuk mencapai produktivitas, efisiensi, dan efektivitas operasional yang lebih baik. Semua perubahan ini bergulir dengan kecepatan tinggi. Di era informasi dengan persaingan superkompetitif, perusahaan yang kemampuan SDMnya hanya diperbaiki sejalan dengan kemajuan teknologi, akan berjalan di tempat. Apalagi jika perusahaan sama sekali tidak mengusahakan adanya pembelajaran yang berkelanjutan bagi para karyawan (yang pasti, perusahaan seperti ini akan dengan cepat tertinggal, dan tidak akan dilirik lagi oleh konsumen mereka, karena teknologi yang sudah ketinggalan zaman, cara-cara pelayanan yang sudah tidak tepat). Dengan demikian, perusahaan dan karyawan perlu saling membahu untuk menerapkan paradigma pembelajaran yang berkelanjutan. Pembelajaran ini pun harus diusahakan lebih cepat dari kecepatan belajar industri yang ditekuni. Ada banyak cara yang bisa dilakukan, dua di antaranya adalah sebagai berikut.
Pengetahuan, atau informasi yang sudah diolah, merupakan alat saja yang dapat membantu perusahaan dalam mengambil keputusan untuk menjalankan kegiatan operasionalnya. Pengetahuan ini bisa dikendalikan oleh manusia. Untuk itu, perusahaan perlu mencari, menciptakan, dan mempertahankan sumber daya manusia yang memiliki ataupun yang dapat membuka akses untuk memperoleh informasi tepat yang diperlukan. Jika informasi sudah diperoleh, perusahaan perlu mengelolanya sedemikian rupa sehingga dapat digunakan bersama oleh orang-orang yang tepat agar hasilnya juga optimal. Untuk itu peran Knowledge Management (KM) menjadi penting.
Dengan KM yang tepat, perusahaan bisa mengembangkan sistem informasi canggih yang dapat dimanfaatkan tidak hanya oleh para pimpinan di kantor pusat, bahkan juga oleh mereka yang berada di cabang-cabang dan perwakilan perusahaan di seluruh pelosok dunia pada waktu yang bersamaan. Jadi, knowledge management dapat memperlancar information sharing dalam perusahaan, yang pada akhirnya dapat menumbuhkan budaya inovasi, pembelajaran yang berkelanjutan dan peningkatan kualitas dari SDM perusahaan. Knowledge management yang memungkinkan terjadinya information sharing, mempermudah pengambilan keputusan, dan juga bisa memperlancar komunikasi antarkaryawan, antarkaryawan dan target pasar, supplier, dan pihak-pihak lain yang berkepentingan terhadap perusahaan (pemerintah, investor, dan masyarakat umum). Sistem komunikasi yang tertata dengan baik ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan keharmonisan hubungan internal dan eksternal perusahaan. Misalnya: walaupun para karyawan sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, mereka masih bisa berkomunikasi melalui intranet dan internet, ataupun dengan memanfaatkan teknologi komunikasi lainnya (telepon, fax, video conferencing, dll). Kondisi positif tersebut, pada akhirnya, dapat meningkatkan kualitas produk, jasa dan pelayanan yang diberikan perusahaan pada target pasarnya di seluruh dunia.
Di dunia usaha yang diwarnai dengan perubahan yang berlari dengan sangat cepat, hampir tidak mungkin lagi bagi sebuah perusahaan untuk hanya menjagokan kualitas produk dan jasa yang dihasilkan saat ini sebagai titik saing, karena produk yang berhasil di pasar akan memacu pelaku bisnis lainnya untuk dengan cepat melakukan “duplikasi” terhadap produk dan jasa yang berhasil merebut hati pasar. Jadi, seperti yang diusulkan oleh Richard Foster dan Sarah Kaplan dalam buku mereka Creative Destruction, sebuah perusahan harus senantiasa melakukan “penghancuran yang kreatif” terhadap produk dan jasa unggulan mereka dengan teknologi yang lebih canggih, cara yang lebih baik, agar tetap tampil terdepan di industri yang mereka tekuni. Caranya? Tentu saja dengan terus-menerus meningkatkan brainware dari sumber daya manusia yang menunjang kegiatan perusahaan. Sebagai contoh, di industri telepon genggam, para pemainnya tidak bisa terlena dengan kesuksesan produk unggulan mereka saat ini. Mereka harus dengan cepat memperkenalkan produk baru dengan teknologi yang lebih canggih, pelayanan yang lebih prima, fasilitas yang lebih banyak. Tentunya, kedatangan produk baru ini yang secara multidimensional lebih baik bisa “membunuh” produk unggulan yang sudah terlebih dahulu diproduksi (baik produk perusahaan yang sama, atau produk dari perusahaan yang berbeda). Tetapi ini memang tindakan yang harus diambil untuk menjaga posisi perusahaan di industri ini agar tidak terkejar oleh para pesaing.
Heartware
Terpuruknya perusahaan-perusahaan kelas dunia seperti Enron dan Worldcom, karena ketidakjujuran,, manipulasi data keuangan, dan tanggung jawab perusahaan yang rendah terhadap publik, telah memberikan peringatan bagi pelaku bisnis lainnya untuk meninjau kembali perangkat “hati nurani” mereka. Perusahaan tidak hanya dituntut untuk menghasilkan produk atau jasa yang berkualitas, membukukan profit besar, tetapi juga dituntut untuk menunjukkan “hati nurani” yang bersih, antara lain dalam bentuk kepedulian sosial dan lingkungan. Misalnya saja kasus sebuah perusahaan yang merusak lingkungan tempat mereka beroperasi dengan membuang limbah ke sungai yang digunakan oleh masyarakat sekitar untuk keperluan sehari-hari. Akibatnya, masyarakat menjadi sengsara, dan menuntut agar pabrik perusahaan tersebut ditutup segera. Hal ini juga terjadi dengan sebuah perusahaan asing di Irian Jaya. Masyarakat setempat yang merasa bahwa perusahaan ini tidak memperhatikan kesejahteraan mereka, melakukan teror terhadap kegiatan usaha perusahaan ini. Akibatnya, kegiatan bisnis pun terganggu, dan yang lebih parah lagi, banyak korban berjatuhan dari pegawai perusahaan.
Dari gambaran yang sudah dibahas di atas, jelaslah, tuntutan masyarakat terhadap “hati nurani” perusahaan harus menjadi perhatian pelaku bisnis, jika mereka ingin tetap melakukan kegiatan usaha yang berkelanjutan.
Untuk menunjukkan hati nurani yang tulus perusahaan perlu menciptakan hubungan yang harmonis dengan para pelanggan. Persaingan yang makin ketat menyebabkan perusahaan harus bertindak cerdas untuk tampil sebagai pemenang. Di era teknologi canggih, dan informasi yang berlimpah, tidaklah sulit bagi perusahaan-perusahaan untuk menghasilkan produk atau jasa yang berkualitas prima. Jadi perubahan persaingan sudah tidak lagi pada kualitas, karena kualitas sudah merupakan keharusan bagi para pelaku bisnis yang ingin tetap berada di arena persaingan usaha. Angin persaingan telah berubah arah dari kualitas ke kepuasan pelanggan.
Perusahaan yang dapat memberikan kepuasan kepada pelanggan adalah perusahaan yang mampu menumbuhkan kepercayaan di hati pelanggan. Rasa kepercayaan yang terakumulasi dapat membangun kredibilitas perusahaan. Inilah yang dapat menarik perhatian pelangggan baru, dan membuat mereka beralih ke perusahaan yang dianggap kredibel tersebut. Rasa percaya ini juga dapat menyebabkan pelanggan menjadi setia, bahkan dapat membantu perusahaan untuk membawa pelanggan-pelanggan baru kepada perusahaan. Menumbuhkan kredibilitas memerlukan waktu dan komitmen dari seluruh elemen yang ada dalam perusahaan, dari tingkat teratas ke tingkat yang paling dasar.
Perusahaan yang sukses di era yang penuh persaingan memaksa perusahaan untuk berorientasi pada konsumen. Bahkan, semua keputusan perusahaan harus memperhatikan kepentingan konsumen yang makin kompleks. Tak kenal maka tak sayang, begitu kata pepatah. Demikian juga dalam menghadapi konsumen, perusahaan harus benar-benar mengenal tiap konsumen mereka, yaitu dengan cara membina hubungan yang harmonis dengan target pasar. Perusahaan dapat membangun hubungan dengan pelanggan dengan berbagai cara. Di dunia nyata, perusahaan bisa menumbuhkan fasilitas layanan konsumen di tiap outlet mereka. Pimpinan perusahaan bisa memberi contoh nyata, dan juga memberi pelatihan bagi para karyawan untuk menumbuhkan budaya layanan pelanggan. Teknologi internet dengan knowledge management-nya pun bisa dimanfaatkan untuk mengenal pelanggan lebih detail (melalui informasi lengkap pelanggan yang dapat diakses oleh pengambil keputusan).
Kondisi ini telah mendorong perusahaan untuk menggeser paradigmanya dari persaingan dalam kualitas menjadi persaingan dalam memuaskan pelanggan; dari tujuan memanfaatkan pelanggan menjadi tujuan memenangkan kepercayaan pelanggan; dan dari orientasi pada perusahaan (semua keputusan didasarkan pada kepentingan perusahaan) menjadi orientasi pada pelanggan (semua tindakan senantiasa mempertimbangkan dampaknya pada pelanggan).
Dulu, fokus kegiatan di dunia usaha pada hanyalah berkisar pada keuntungan finansial semata. Para pelaku bisnis belum dituntut untuk memperdulikan dampak kegiatan bisnis mereka terhadap pihak-pihak yang terkait dengan perusahaan (baik terkait langsung ataupun tidak langsung). Sekarang, praktik bisnis tanpa memperhatikan tanggung jawab terhadap lingkungan internal (misalnya: karyawan, pemegang saham) maupun eksternal (misalnya: masyarakat umum, dan lingkungan) sudah tidak bisa lagi dijalankan.
Di tengah masyarakat yang makin mudah memperoleh informasi, makin peka terhadap pentingnya menjaga lingkungan, makin tau akibat buruk dari korupsi dan pelanggaran etika, perusahaan juga dituntut untuk memiliki kepedulian tinggi, tidak hanya pada kegiatan bisnis mereka tetapi juga pada tuntutan masyarakat, yang menjadi konsumen, calon konsumen, investor dan calon investor mereka. Berbagai organisasi juga muncul untuk menyuarakan kepedulian masyarakat terhadap berbagai masalah, misalnya: kesehatan (World Health Organization), lingkungan (Greenpeace ditingkat global, Walhi di tingkat nasional), kesejahteraan konsumen (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia), dan kode etik bisnis (Komite Nasional untuk Good Corporate Governance, Indonesian Corruption Watch). Ketidakpedulian terhadap tuntutan masyarakat dapat mengakibatkan perusahaan dikenakan sanksi pemboikotan terhadap produk dan jasa yang dihasilkan perusahaan, bahkan perusakan dan penutupan usaha. Jadi, “Tanpa kepedulian, tak ada bisnis.”
Untuk menunjukkan kepedulian terhadap masyarakat, perusahaan bisa menjadi mendukung kegiatan-kegiatan kemasyarakatan, misalnya dengan memberikan beasiswa bagi putra-putri masyarakat setempat, membantu korban bencana alam, dan memberi bantuan kemanusiaan ke daerah-daerah yang membutuhkan. Untuk menunjukkan kepedulian terhadap kesehatan, perusahaan makanan dan minuman bisa mencantumkan secara jujur bahan-bahan dasar produk mereka, izin dari pemerintah, mencantumkan label “halal,” serta mencantumkan kontra indikasi yang mungkin timbul untuk tindakan peringatan. Sedangkan untuk kepedulian pada lingkungan, perusahaan bisa menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan, proses produksi dengan limbah yang telah diolah dengan tepat agar tidak mencemarkan lingkungan, serta melakukan upaya yang dapat mempertahankan kelestarian lingkungan.
Para pelaku bisnis juga dituntut untuk mematuhi peraturan dan perundang-undangan yang mewajibkan mereka untuk mempraktikkan good corporate governance (GCG). Sebagai akibatnya, perusahaan yang dinilai layak untuk “go public” adalah perusahaan yang telah lulus “fit and proper test” dalam GCG. Untuk itu, para pimpinan dalam sebuah perusahaan yang akan “go public” tidak bisa lagi hanya mengandalkan kemampuan, kehebatan, dan pengalaman mereka yang brilian di dunia bisnis, tetapi juga harus mematuhi peraturan yang menuntut kriteria “fit and proper” dalam hal etika. Untuk fungsi pengendalian, peraturan dan perundang-undangan tentang praktik bisnis juga mewajibkan perusahaan untuk menunjuk komisaris yang independen yang dapat memberikan masukan yang objektif pada dewan direksi untuk mengambil keputusan. Perusahaan juga diwajibkan untuk memiliki lembaga audit yang independen untuk memeriksa keuangan perusahaan bersama-sama dengan auditor.
Perusahaan yang tidak menerapkan GCG, pada akhirnya akan ditinggalkan oleh masyarakat, dicampakkan oleh investor, dan dinilai melanggar hukum. Perusahaan seperti ini akan kehilangan kesempatan untuk meneruskan kegiatan usahanya. Di lain pihak, perusahaan yang telah mempraktikkan GCG dapat menciptakan nilai positif bagi masyarakat, investor, supplier, distributor, pemerintah, dan hukum. Tentu saja hal ini akan berdampak baik bagi kelanjutan usaha perusahaan tersebut yang telah lulus “GCG test.” Singkatnya, GCG sudah bukan lagi hal yang perlu diperdebatkan, melainkan sudah menjadi keharusan bagi setiap pelaku bisnis untuk diterapkan.
Sangat penting bagi setiap pelaku bisnis untuk memiliki brainware yang prima—yang dapat membantu mereka untuk senantiasa berpikir positif sehingga dapat mengubah tantangan menjadi peluang untuk menang. Brainware seperti ini belum lengkap untuk memenangkan persaingan. Pelaku bisnis juga perlu ditunjang dengan heartware kelas utama agar dapat melengkapi diri dengan kredibilitas dan tanggung jawab tinggi untuk memenangkan kepercayaan target pasar secara khusus, dan masyarakat secara umum. Kombinasi brainware dan heartware yang tepat merupakan senjata ampuh bagi para pelaku bisnis untuk menjamin kelangsungan hidup mereka di dunia usaha.
[..Baca Selengkapnya..]
Diposting oleh Pendekar Alaska di 04.10 0 komentar
Label: NLP
Sedikit dari NLP
Pertama, how you think is how you act and who you are. Kalimat ini, dalam kehidupan sehari-hari , sering kita kenal dengan nama integritas. Seorang pemimpin yang baik pasti punya integritas yang baik. Integritas diri adalah keterhubungan antara pola pikir seorang individu dan pilihan perilaku yang diambilnya. Perilaku yang muncul itulah yang menggambarkan siapa sebenarnya individu tersebut.
Jadi bila kita simpulkan, siapa diri kita ditentukan oleh pilihan perilaku kita. Dan pilihan perilaku tersebut diarahkan secara tidak sadar oleh pola pikir. Pola pikir adalah alur berpikir atau template berpikir dalam menanggapi rangsangan luar dan pemilihan reaksi terhadap rangsangan tersebut. Pola pikir dalam kaidah bahasa Arab sering kita pahami sebagai akhlak.
Beliau merumuskan pengaruh pola pikir terhadap pilihan tindakan secara matematis sebagai berikut :
Behaviourindividu/group = f (Mind – Setindividu/group)
Rumusan ini telah dipatenkan pada tahun 1999.
Poin kedua, don’t raise the black kambing alias jangan memelihara kambing hitam. Ini poin yang jadi favorit saya.
Memelihara black kambing, insya Allah lain kali akan saya tulis lebih detailnya. Untuk saat ini, singkatnya, ungkapan tersebut ditujukan pada tindakan-tindakan yang bertujuan memberi pemakluman atau pemafaan pada kegagalan/kelemahan diri/kelompok sendiri dengan menjadikan faktor luar sebagai penyebab.
Contohnya :
Kalo mau ngapalin/belajar sesuatu, paling enak tuh pas pagi-pagi. Otak masih fresh. Suasana masih seger. Kan ada yg bilang kalau di pagi hari otak kita mudah untuk mencerna sesuatu. Tapi…., sayang banget rumah ane jauh dari tempat aktifitas. Jadi jam 6 dah harus take off. Jadi ga bisa deh ngapalin/belajar pag-pagi.
Seorang staf humas diminta manajernya untuk membuatkan janji bertemu antara sang manajer dengan seorang tokoh. Staf humas ini menyanggupi (mungkin terpaksa menyanggupi, namanya juga kerjaan..). Saat ditanya hasilnya seminggu kemudian, dia menjawab, “Pak, orangnya sudah saya telpon, tapi ga’ diangkat. Saya coba tanya sekretarisnya, katanya,”Bapak sedang meeting. Maaf ya…!”. Terus, saya sudah coba bla…bla…bla...”. Nah, begitulah yang disampaikan si staf humas. Alasan-alasan yang ditujukan untuk memaklumkan kegagalan dirinya dalam membuatkan janji.
Dll…
Poin ketiga, …..entar. Insya Allah disambung lagi.
Ternyata, saya pribadi masih hobi memelihara black kambing. Aduh….!
Sampai di sini dulu. Semoga bermanfaat.
Diposting oleh Pendekar Alaska di 03.49 0 komentar
Label: NLP
Katrok versi saya ..jilid(1)
KATROOOKKKK....!!!
Begitu kira-kira sebutan yang pas buat mereka!!
Dijaman yang makin susah, ditengah carut-marutnya kondisi negara, ekonomi, moral dan lingkungan. Masih saja banyak orang yang KATROK !!
Baru saja saya menemukan salah satu orang yang KATROK....Hari gini....
Diposting oleh Pendekar Alaska di 03.01 1 komentar
Label: Curhat