Tampilkan postingan dengan label Artikel Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Oktober 2015

Membentuk Idealisme Pada Anak

Masa anak-anak adalah masa yang paling tepat untuk menanamkan suatu pemahaman. Bila anak-anak mendapat pemahaman yang benar sejak dini, maka pemahaman tersebut akan mengarahkan perilakunya pada masa yang akan datang. Sebaliknya jika sejak dini anak diberi pemahaman yang salah, maka hal itu juga berpengaruh pada pola pikir dan pola sikap yang akan terbentuk. Di sinilah tanggung jawab dan peran orangtua sangat dibutuhkan dalam proses penanaman pemahaman yang benar pada diri anak agar terbentuk idealisme Islam.

  Membentuk Idealisme Anak

Sebagai konsekuensi dari keyakinan pada akidah Islam, orangtua harus membentuk bangunan keluarganya atas dasar ketaatan kepada Allah SWT. Artinya, orangtua harus membangun pemahaman seluruh anggota keluarganya dalam rangka meraih keridhaan Allah SWT melalui pelaksanaan hukum-hukum syariah. Mengenalkan hukum-hukum Islam kepada anak adalah tugas pertama dan utama orangtua. Orangtualah yang akan memberikan pengaruh terhadap tumbuh dan berkembangnya pemahaman Islam yang utuh terhadap diri anak. Rasulullah saw. bersabda (yang artinya): Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu dan bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani dan Majusi (HR al-Bukhari). 
Satu hal yang penting dan mendasar untuk ditanamkan dalam kehidupan seorang Muslim sejak awal adalah penanaman akidah. Bahkan proses ini harus dimulai sejak anak berada dalam kandungan ibunya melalui lantunan ayat-ayat al-Quran serta doa yang terus dipanjatkan selama masa kehamilan. Selanjutnya, sejak dilahirkan ke dunia, anak harus dibimbing dan diarahkan agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Rabb-nya. Anak dibimbing untuk mengenal Penciptanya agar kelak ia hanya mengabdi kepada Sang Pencipta, Allah SWT. Demikian pula dengan pengajaran perilaku dan budi pekerti anak yang didapatkan dari sikap keseharian orangtua ketika bergaul dengan mereka. Bagaimana ia diajari untuk memilih kalimat-kalimat yang baik, sikap sopan-santun, kasih-sayang terhadap saudara dan orang lain. Mereka diajari untuk memilih cara yang benar ketika memenuhi kebutuhan hidup dan memilih barang halal yang akan mereka gunakan. Kesimpulannya, potensi dasar untuk membentuk sosok yang idealis sebagai bagian dari pembentukan generasi berkualitas dipersiapkan oleh orangtua terutama oleh ibu. Ibu memiliki peran yang sangat vital dalam proses pendidikan anak sejak dini. Ibulah sosok yang pertama kali berinteraksi dengan anak, sosok pertama yang memberi rasa aman, dan sosok pertama yang dipercaya dan didengar omongannya. Karena itu, ibu menjadi sekolah pertama bagi anak anaknya untuk menjadi sosok yang memiliki idealisme. 
Mengarahkan Idealisme Anak 

Pribadi yang memiliki idealisme adalah pribadi tangguh, yang memiliki kepribadian Islam; berpikir islami dan berperilaku dengan standar hukum-hukum Allah SWT. Dengan itu ia mampu mengarungi hidup ini dengan benar dan membawa kemaslahatan. Beberapa hal yang harus ditanamkan orangtua khususnya ibu kepada anaknya dalam rangka membentuk idealisme pada anak di antaranya adalah: 
1. Memahamkan anak bahwa satu-satunya agama yang diridhai Allah dan akan membawa kebahagiaan di dunia dan di akhirat adalah Islam (Lihat: QS Ali Imran [3]: 19). Penanaman pemahaman ini sangat penting agar sejak dini anak hanya menjadikan Islam sebagai satu-satunya agama yang harus diyakini dan diperjuangkan. Dengan begitu anak tidak akan ragu sedikit pun akan kebenaran agama yang dianutnya. Orangtua yang memiliki idealisme tentu tidak akan membiarkan anaknya mencari hakikat kehidupan seorang diri. Ia akan mengarahkan anaknya agar memahami hakikat kehidupan ini sesuai dengan tujuan penciptaan manusia, yakni hanya untuk beribadah kepada Allah SWT. Orangtua juga tidak akan membiarkan anaknya memiliki pemahaman bahwa semua agama itu benar hanya karena sama-sama mengajarkan penyembahan Tuhan meski berbeda caranya. Pendapat seperti ini akan menjadi racun bagi anak dan tidak akan mengokohkan akidah yang kuat pada diri anak, selain bertentangan dengan pemahaman QS Ali Imran ayat 19 di atas. 
2. Menanamkan pada anak bahwa konsekuensi mengimani al-Quran adalah membenarkan semua isinya yang mengandung petunjuk dari Allah SWT untuk keselamatan dan kebahagiaan umat manusia di dunia dan akhirat. Ditanamkan pula kesadaran bahwa bukti mengakui Nabi Muhammad saw. sebagai rasul adalah percaya kepada hadis-hadis beliau. Orangtua bisa mencari contoh syariah yang mudah dicerna oleh mereka, seperti perintah untuk berbakti kepada orangtua, berinfak kepada fakir miskin, larangan mengadu domba sesama Muslim, menipu, dll. Jelaskanlah bahwa di dalam perintah Allah SWT ada yang bersifat wajib atau sunnah, serta dalam larangan Allah SWT ada yang bersifat haram atau makruh berikut konsekuensinya. Tujuannya agar anak memiliki gambaran tentang syariah Islam dan merasa terikat dengannya. 
 3. Memahamkan hakikat baik dan buruk, serta terpuji dan tercela; bahwa kebaikan adalah apa saja yang Allah ridhai, sedangkan keburukan adalah apa saja yang Allah murkai. Yang terpuji adalah apa saja yang dipuji oleh Allah dan Rasul-Nya, sedangkan yang tercela adalah apa saja dicela oleh Allah dan Rasul-Nya. Anak-anak harus selalu dipahamkan bahwa baik-buruk sesuatu itu harus sesuai dengan aturan Allah SWT, dan terpuji tercela sesuatu haruslah apa yang dipuji dan dicela oleh Allah SWT. Perlu disampaikan kepada anak, bahwa sungguh Allah itu Maha Penyayang atas makhluk-Nya, kita tidak perlu bersusah-payah menentukan baik dan buruk sesuatu karena telah ditetapkan oleh Dia. Allah menetapkan, manusia yang berbuat menurut akal pikiran dan hawa nafsunya serta tidak mengikuti aturan-Nya adalah kufur dan ingkar, dan kita harus menjauhi sikap demikian. Dengan pemahaman seperti ini, anak akan terbiasa mengukur dan menimbang setiap perilaku dan pilihan hidupnya sesuai dengan aturan Allah SWT, bukan dengan pertimbangan perasaan apalagi mengikuti perkembangan zaman sekarang yang sudah tidak karuan ini. 
4. Dengan sering melatih proses berpikir Islamnya, pemikiran anak akan semakin meluas. Kemudian seiring perkembangan usianya, orangtua juga bisa mengarahkan pemahaman anak tentang persoalan mendasar yang dihadapi masyarakat saat ini, yaitu tidak adanya penerapan syariah Islam di tengah kehidupan. Selanjutnya orangtua mendorong anak untuk terbiasa melakukan amar makruf nahi mungkar dan bersama-sama berjuang demi tegaknya syariah Islam yang akan menyelesaikan semua persoalan yang ada di masyarakat. 
Idealisme Islam versus Intoleransi? 
Saat orangtua berhasil mencetak anak-anaknya menjadi sosok yang idealis, yang selalu terikat dengan hukum-hukum Allah SWT, berarti orangtua telah berhasil mendidik anaknya sesuai dengan arahan Islam. Betapa bahagianya orangtua yang sukses mengantarkan anaknya menjadi sosok idealis, pejuang Islam yang salih dan konsisten membela kebenaran. Bahkan kebahagiaan orangtua tersebut akan terus mengalir walaupun Allah telah memanggilnya. Keberhasilan membentuk idealisme Islam pada diri anak haruslah menjadi cita-cita bagi setiap orangtua. Untuk itu diperlukan upaya yang sungguh-sungguh pada setiap keluarga Muslim untuk senantiasa mewarnai kehidupan keluarganya dengan warna Islam yang jelas. Dengan begitu, karakter anak yang terbentuk adalah karakter Islam yang jelas, tidak abu-abu, apalagi warna-warni. Sikap orangtua yang seperti ini bukan berarti orangtua mengajarkan anak untuk tidak memiliki sikap toleransi terhadap agama lain atau bahkan dianggap menanamkan kebencian dan kekerasan pada anak. Tuduhan seperti ini tentu tidak bisa dipertanggungjawabkan. Para orangtua Muslim tidak boleh terjebak dengan tuduhan dari kalangan yang antara lain dilontarkan kalangan liberal ini. Orangtua harus tetap istiqamah mengarahkan pendidikan dan pembinaan anak-anaknya agar memiliki idealisme Islam sehingga terbentuk generasi Islam yang berkualitas pada masa yang akan datang. WalLahu a’lam bi ash-shawab.

[..Baca Selengkapnya..]

Selasa, 23 September 2008

kursus-online

Ilmu Komputer khususnya pemrograman menjadi menu wajib yang harus di kuasai, atau paling tidak dimengerti di kehidupan yang sudah meng-global seperti sekarang ini. Agar kita tetap bisa 'GAUL' dan tidak ketinggalan.
Trus bagaimana caranya...? Tentu saja belajar, banyak sekali bahasa pemrograman yang bisa kita pelajari. Salah satunya PHP
Kita semua sudah tahu bahwa PHP merupakan bahasa pemrograman web yang dominan dan tentu saja belajar PHP sangat penting. Lalu bagaimana caranya untuk belajar?


Sebelum Anda menemukan menjawab pertanyaan di atas tadi, Anda perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut pada diri Anda:

  • Apakah Anda ingin bisa PHP/MySQL?
  • Apakah Anda tidak dapat menemukan kursus PHP/MySQL di kota Anda?
  • Apakah Anda orang yang cukup sibuk dan tidak punya waktu untuk belajar di kelas?
  • Apakah Anda menginginkan kursus yang mengerti akan jadwal Anda yang padat?
  • Apakah Anda ingin belajar dengan waktu Anda sendiri?
  • Apakah Anda ingin kursus dengan biaya yang sangat terjangkau?
  • Apakah Anda baru akan belajar PHP/MySQL?

  • Apakah Anda sudah sedikit belajar PHP/MySQL dan ingin menemukan pengertian-pengertian baru tentang mereka?

Jika Anda menjawab salah satu pertanyaan di atas dengan YA,maka mengunjungi kursus-online.com adalah solusi yang paling tepat untuk Anda.
http://www.kursus-online.com/?id=dwipram

[..Baca Selengkapnya..]

Rabu, 09 Juli 2008

KESEIMBANGAN IQ, EQ DAN SQ DALAM PERPEKTIF ISLAM

Dalam rentang waktu dan sejarah yang panjang, manusia pernah sangat mengagungkan kemampuan otak dan daya nalar (IQ). Kemampuan berfikir dianggap sebagai primadona. Potensi diri yang lain dimarginalkan. Pola pikir dan cara pandang yang demikian telah melahirkan manusia terdidik dengan otak yang cerdas tetapi sikap., perilaku dan pola hidup sangat kontras dengan kemampuan intelektualnya. Banyak orang yang cerdas secara akademik tetapi gagal dalam pekerjaan dan kehidupan sosialnya. Mereka memiliki kepribadian yang terbelah (split personality). Di mana tidak terjadi integrasi antara otak dan hati. Kondisi tersebut pada gilirannya menimbulkan krisis multi dimensi yang sangat memprihatinkan.
Fenomena tersebut telah menyadarkan para pakar bahwa kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan otak dan daya pikir semata, malah lebih banyak ditentukan oleh kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). Tentunya ada yang salah dalam pola pembangunan SDM selama ini, yakni terlalu mengedepankan IQ, dengan mengabaikan EQ dan SQ. Oleh karena itu kondisi demikian sudah waktunya diakhiri, di mana pendidikan harus diterapkan secara seimbang, dengan memperhatikan dan memberi penekanan yang sama kepada IQ, EQ dan SQ.
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, bagaimana konsep Islam tentang keseimbangan IQ, EQ dan SQ. Apakah Islam juga mengutamakan IQ semata atau sebaliknya memberi penekanan yang sama terhadap ketiga potensi tersebut. Makalah sederhana ini mencoba mendeskripsikan konsep Islam tentang keseimbangan IQ , EQ dan SQ.
Ajaran Islam Tentang IQ, EQ dan SO
Selaku orang yang beriman, tidak perlu ada keraguan betapa komplit dan universalitas ajaran Islam . Petunjuk Ilahi begitu sempurna, rahmat bagi seluruh alam dan berlaku hingga akhir zaman. Tinggal lagi kemauan dan kepiawaian orang beriman untuk menggali dan mengemas prinsip-prinsip yang telah diletakkan oleh al-Qur'an dan al-Hadis untuk menjawab tema yang menjadi bahan diskusi saat ini.

Kecerdasan intelektual adalah kemampuan intelektual, analisa, logika dan rasio. Ia merupakan kecerdasan untuk menerima, menyimpan dan mengolah infomasi menjadi fakta.

Orang yang kecerdasan intelektualnya baik, baginya tidak ada informasi yang sulit, semuanya dapat disimpan dan diolah, untuk pada waktu yang tepat dan pada saat dibutuhkan diolah dan diinformasikan kembali. Proses menerima , menyimpan, dan mengolah kembali informasi, (baik informasi yang didapat lewat pendengaran, penglihatan atau penciuman) biasa disebut "berfikir". Berfikir adalah media untuk menambah perbendaharaan/khazanah otak manusia. Manusia memikirkan dirinya, orang-orang di sekitarnya dan alam semesta. Dengan daya pikirnya, manusia berupaya mensejahterakan diri dan kualitas kehidupannya. Pentingnya mendayagunakan akal sangat dianjurkan oleh Islam. Tidak terhitung banyaknya ayat-ayat al-Qur'an dan Hadis Rasulullah SAW yang mendorong manusia untuk selalu berfikir dan merenung. Redaksi al-Qur'an dan al-Hadis tentang berfikir atau mempergunakan akal cukup variatif. Ada yang dalam bentuk khabariah, insyaiyah, istifham inkary. Semuanya itu menunjukkan betapa Islam sangat concern terhadap kecerdasan intelektual manusia. Manusia tidak hanya disuruh memikirkan dirinya, tetapi juga dipanggil untuk memikirkan alam jagad raya. Dalam konteks Islam, memikirkan alam semesta akan mengantarkan manusia kepada kesadaran akan ke-Mahakuasaan Sang Pencipta (Allah SWT). Dari pemahaman inilah tumbuhnya Tauhid yang murni ."Agama adalah akal, tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal" hendaknya dimaknai dalam konteks ini.
Sekedar contoh mari dilihat ayat-ayat berikut :

  1. Firman-Nya dalam al-Baqarah 164 mendorong manusia untuk memikirkan kejadian langit dan bumi, pergantian malam dengan siang, dan betapa air hujan mengubah tanah yang tandus menjadi hijau kembali.
  2. Firman-Nya dalam ar-Ra'du 4 mengajak manusia untuk merenungkan betapa variatifnya bentuk, rasa dan warna tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan, padahal berasal dari tanah yang sama.
  3. Firman-Nya dalam an-Nahlu 12 mengimbau orang yang berfikir untuk memikirkan pergantian malam dengan siang dan perjalanan planet-planet yang kesemuanya itu bergerak dengan aturan Allah.
  4. Firman-Nya dalam ar-Rum 24 mengajak manusia untuk memikirkan proses turunnya hujan dan manfaat air hujan bagi kehidupan di muka bumi.
  5. Teori "Big Bang" disebut al-Qur'an dalam al-Anbiyaa':30, teori "Nebula" (1 C': milyar galaksi) dalam ar-Rahman :38, thawaf alam semesta dalam al-Israa:44, dan "Black Hole"dengan gravitasinya yang sangat kuat, menjangkar dan menarik seluruh planet agar tetap pada orbitnya , dalam Yasin 38-40, dan sebagainya.

Kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan, memahami dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi koneksi dan pengaruh yang manusiawi.

2 Dapat dikatakan bahwa EQ adalah kemampuan mendengar suara hati sebagai sumber informasi. Untuk pemilik EQ yang baik, baginya infomasi tidak hanya didapat lewat panca indra semata, tetapi ada sumber yang lain, dari dalam dirinya sendiri yakni suara hati. Malahan sumber infomasi yang disebut terakhir akan menyaring dan memilah informasi yang didapat dari panca indra.
Substansi dari kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan dan memahami untuk kemudian disikapi secara manusiawi. Orang yang EQ-nya baik, dapat memahami perasaan orang lain, dapat membaca yang tersurat dan yang tersirat, dapat menangkap bahasa verbal dan non verbal. Semua pemahaman tersebut akan menuntunnya agar bersikap sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan lingkungannya Dapat dimengerti kenapa orang yang EQ-nya baik, sekaligus kehidupan sosialnya juga baik. Lain tidak karena orang tersebut dapat merespon tuntutan lingkungannya dengan tepat .
Di samping itu, kecerdasan emosional mengajarkan tentang
integritas kejujuran komitmen, visi, kreatifitas, ketahanan mental kebijaksanaan dan penguasaan diri.

3 Oleh karena itu EQ mengajarkan bagaimana manusia bersikap terhadap dirinya (intra personal) seperti self awamess (percaya diri), self motivation (memotivasi diri), self regulation (mengatur diri), dan terhadap orang lain (interpersonal) seperti empathy, kemampuan memahami orang lain dan social skill yang memungkinkan setiap orang dapat mengelola konflik dengan orang lain secara baik . Dalam bahasa agama , EQ adalah kepiawaian menjalin "hablun min al-naas". Pusat dari EQ adalah "qalbu" . Hati mengaktifkan nilai-nilai yang paling dalam, mengubah sesuatu yang dipikirkan menjadi sesuatu yang dijalani. Hati dapat mengetahui hal-hal yang tidak dapat diketahui oleh otak. Hati adalah sumber keberanian dan semangat , integritas dan komitmen. Hati merupakan sumber energi dan perasaan terdalam yang memberi dorongan untuk belajar, menciptakan kerja sama, memimpin dan melayani.4
Keharusan memelihara hati agar tidak kotor dan rusak, sangat dianjurkan oleh lslam. Hati yang bersih dan tidak tercemar lah yang dapat memancarkan EQ dengan baik. Di antara hal yang merusak hati dan memperlemah daya kerjanya adalah dosa. Oleh karena itu ayat-ayat al-Qur'an dan Hadis Rasulullah SAW banyak bicara tentang kesucian hati. Sekedar untuk menunjuk contoh dapat dikemukakan ayat-ayat dan hadis berikut :

  1. Firman-Nya dalam al-A'raf 179 menyatakan bahwa orang yang hatinya tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya disebabkan kotor , disamakan dengan binatang, malahan lebih hina lagi.
  2. Firman-Nya dalam al-Hajj 46 menegaskan bahwa orang yang tidak mengambil pelajaran dari perjalanan hidupnya di muka bumi, adalah orang yang buta hatinya.
  3. Firman-Nya dalam al-Baqarah 74 menegaskan bahwa orang yang hatinya tidak disinari dengan petunjuk Allah SWT diumpamakan lebih keras dari batu.
  4. Firman-Nya dalam Fushshilat 5 menyatakan adanya pengakuan dari orang yang tidak mengindahkan petunjuk agama bahwa hati mereka tertutup dan telinga mereka tersumbaT
  5. Hadis Rasulullah SAW menyatakan bahwa di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, bila ia baik baiklah seluruh tubuh , dan bila ia rusak , rusak pulalah seluruh tubuh. Segumpal daging itu adalah hati.
  6. Hadis Rasulullah SAW menyatakan bahwa bila manusia berbuat dosa tumbuhlah bintik-bintik hitam di hatinya. Bila dosanya bertambah, maka bertambah pulalah bintik-bintik hitam tersebut, yang kadang kala sampai menutup seluruh hatinya.

Mengacu kepada ayat dan hadis di atas dapat disimpulkan bahwa EQ berkaitan erat dengan kehidupan keagamaan . Apabila petunjuk agama dijadikan panduan kehidupan, maka akan berdampak positif terhadap kecerdasan emosional . Begitu pula sebaliknya.

Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yakni kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup dalam konteks makna yang lebih luas. Kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibanding dengan yang lain. Dapat juga dikatakan bahwa kecerdasan spiritual merupakan kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan, melalui langkah- langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah dalam upaya menggapai kualitas hanif dan ikhlas5. SQ adalah suara hati Ilahiyah yang memotivasi seseorang untuk berbuat atau tidak berbuat .
Kalau EQ berpusat di hati, maka SQ berpusat pada "hati nurani" (Fuad/dhamir). Kebenaran suara fuad tidak perlu diragukan Sejak awal kejadiannya, "fuad" telah tunduk kepada perjanjian ketuhanan " Bukankah Aku ini Tuhanmu ?" Mereka menjawab :" Betul (Engkau Tuhan kami ), kami bersaksi "( al-A'raaf,7:172 ). Di samping itu, secara eksplisit Allah SWT menyatakan bahwa penciptaan Fuad/ al-Af’idah selaku komponen utama manusia terjadi pada saat manusia masih dalam rahim ibunya (al-Sajadah,32:9). Tentunya ada makna yang tersirat di balik informasi Allah tentang saat penciptaan fuad karena Sang Pencipta tidak memberikan informasi yang sama tentang waktu penciptaan akal dan qalbu. Isyarat yang dapat ditangkap dari perbedaan tersebut adalah bahwa kebenaran suara fuad jauh melampaui kebenaran suara akal dan qalbu .
Agar SQ dapat bekerja optimal, maka "Fuad" harus sesering mungkin diaktifkan. Manusia dipanggil untuk setiap saat berkomunikasi dengan fuad-nya Untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, tanya dulu pendapat fuad/dhamir. Dengan cara demikian maka daya kerja SQ akan optimal, sehingga dapat memandu pola hidup seseorang. Inilah yang dimaksudkan oleh Rasulullah SAW dengan sabda beliau “sal dhamiruka” (tanya hati nuranimu). Fuad ibarat battery, yang kalau jarang dipakai maka daya kerjanya akan lemah, malah mungkin tidak dapat bekerja sama sekali. Dalam kaitan ini lah, agama menyeru manusia agar mengagungkan Allah, membersihkan pakaian dan meninggalkan perbuatan dosa. (al-Mudatstir, 74:1-5) Semuanya itu diperintahkan dalam kerangka optimalisasi daya kerja fuad / mempertinggi SQ seseorang.
Mengacu kepada paparan di atas, dapat ditegaskan bahwa Islam memberikan apresiasi yang tinggi terhadap SQ. Tinggal lagi bagaimana manusia memelihara SQ-nya agar dapat berfungsi optimal. Sebagai perbandingan ada baiknya penulis mengambil contoh berikut : "Apabila kita lupa sesuatu , bukan berarti hal yang terlupakan itu telah hilang dari tempat penyimpanannya, melainkan karena sistem untuk mengakses ke tempat penyimpanan memori tersebut sudah lemah. Akses ke tempat penyimpanan akan kembali kuat bila sering dipergunakan. Begitu pula sebaliknya."6 Demikian juga halnya dengan SQ, kalau sistem untuk mengaksesnya sering dipergunakan, maka daya kerjanya akan optimal. Allah SWT menjamin kebenaran SQ , karena ia merupakan pancaran sinar Ilahiyah. (al-Najmu, 53:11). Penegasan al-Qur'an ini menunjukkan bahwa SQ adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Bahkan SQ merupakan kecerdasan tertinggi.7
Penutup
Sentuhan al-Qur'an dan al-Hadis yang begitu halus dan gamblang terhadap akal , qalbu dan fuad sebagai pusat IQ , EQ dan SQ menunjukkan bahwa Islam memberikan apresiasi yang sama terhadap ketiga sistem kecerdasan tersebut. Hubungan ketiganya dapat dikatakan
saling membutuhkan dan melengkapi . Namun kalau akan dibedakan , maka SQ merupakan "Prima Causa " dari IQ dan EQ. SQ mengajarkan interaksi manusia dengan al-Khalik , sementara IQ dan EQ mengajarkan interaksi manusia dengan dirinya dan alam di sekitarnya. Tanpa ketiganya bekerja proporsional, maka manusia tidak akan dapat menggapai statusnya sebagai "Khalifah" di muka bumi.
Oleh karena Islam memberikan penekanan yang sama terhadap " hablun min Allah " dan "hablun min al-naas ", maka dapat diyakini bahwa keseimbangan IQ, EQ dan SQ merupakan substansi dari ajaran Islam. Jika selama ini orang Islam sadar atau tidak, turut mengagungkan dan memberi penekanan terhadap pendidikan akal dengan mengenyampingkan pendidikan hati dan hati nurani berarti orang Islam telah mengabaikan semangat dan ajaran agamanya. Kondisi yang tidak ideal tersebut sudah waktunya diakhiri , dengan memberikan pendidikan dan kepedulian yang sama terhadap IQ, EQ dan SQ . Wa Allah 'alamu bi al-shawab

1 A. Winarno dan Tri Saksono, Kecerdasan Emosional, Jakarta, LAN, 2001, hal. 4.
2 Ibid, hal. 8
3 Ary Ginanjar Agustian, ESQ, Jakarta, Penerbit Arga, 2002, Cet. 7, hal. xliii
4 Daniel Goleman, Working with Emotional Intelligence, (New York : Bantam Books, 1999) hal. 13.
5 Ary Ginanjar Agustian, ESQ, Op. cit., hal 57
6 Taufik Bahaudin, Brainware Management, Jakarta : PT Gramedia, 2000, cet. Kedua, hal. 60
7 Ary Ginanjar Agustia, loc.cit

[..Baca Selengkapnya..]

Menggugat Rezim Otak Kiri (2)

OTAK manusia yang beratnya kira-kira 1,5 kg atau kurang dari 2,5% dari berat tubuh, terdiri dari 78% air, 10% lemak, 8% protein, menggunakan 20% energi tubuh, berisi lebih dari 100 milliar neuron, 1 trilyun sel glial, 1000 trilyun titik sambungan sinaptik, dan 280 kuintalium memori adalah organ yang menentukan jati diri pemiliknya.

Ned Hermann membagi otak dalam empat kuadran, yakni ;
  1. Kuadran Kiri Atas, disebut sebagai analis dengan dominasi terhadap berfikir logis, analisis fakta, dan pemrosesan angka;
  2. Kuadran Kiri Bawah, disebut sebagai organisator dengan dominasi terhadap perencanaan, pengorganisir hal teknis dan rinci;
  3. Kuadran Kanan Bawah, disebut personalis dengan dominasi terhadap interpersonal, intuisi, dan ekspresif; dan
  4. Kuadran Kanan Atas, disebut sebagai strategis/visualis dengan dominasi terhadap konsep, imajinasi, dan gagasan strategis. Distribusi dominasi otak seseorang tertinggi pada dua dominasi (60%), tiga dominasi (30%), satu dominasi (7%), dan empat dominasi (3%), dikutif dari Taufik Bahaudin (1999) dalam bukunya berjudul "Brainware Management".

Menurut para pakar, dunia memasuki "Era Otak", artinya seluruh aktivitas manusia berbasis otak. Keberhasilan mengelola Sumber Daya Manusia (SDM) ditentukan oleh keefektifan pengelolaan manusia berbasis otaknya, dan diakui oleh Prof. Diamond seorang neurologist dunia bahwa rahasia yang lebih dalam dari bagian otak manusia adalah bagian yang berurusan dengan ketakutan, kemarahan, emosi, seksualitas, cinta, dan gairah. Bahkan kecerdasan spiritual seseorang dapat dikelola dengan baik melalui keefektifan pengelolaan "God Spot" yang terdapat pada otaknya, demikian Zohar dan Marshall (2001) dalam "Spritual Intelligence". Jalaludin Rakhmat (2005) dalam bukunya "Belajar Cerdas" memperkuat asumsi tersebut, yakni "Belajar cerdas adalah belajar berbasiskan otak. Taufik Bahaudin (1999) menyatakan hal senada, bahwa; "perkembangan manajemen manusia telah memasuki generasi ke-5, yakni "Manajemen Berbasis Otak (Brainware Management)", dan Peter F. Drucker mengatakan bahwa saat ini adalah era "Knowledge to Knowledge Competition" artinya "Bagaimana otak belajar terbaik" menjadi bagian penting dalam menentukan daya saing individu, perusahaan, dan suatu bangsa.

Daniel H.Pink (2006) dalam bukunya "A Whole New Mind" menyatakan hal yang sama bahwa sekarang ini sedang terjadi perpindahan zaman dari era informasi menuju era konseptual, yang dimaknai sebagai "Era Kebangkitan Otak Kanan".

Kesalahan selama ini menurut Marilee Zdenek adalah; "Kita hidup dalam masyarakat yang sangat menghormati mereka yang "dominan menggunakan otak kirinya, yakni mereka yang mudah mengingat nama, pandai berhitung,.. mereka dipuji dan diberikan bintang di sebelah namanya. Sementara anak yang dominan menggunakan otak kanannya; yang melamun dan memandangi awan di langit, lebih suka mengarang dan menulis sajak dari pada belajar disuruh pulang dengan catatan malas dan/atau tidak disiplin", dikutip dari Freed dan Parson, (2006) dalam bukunya "Right Brained Children in a Left Brained World".

Para pendidik cendrungan menggunakan otak kiri yang bersifat auditory, berorientasi kepada fakta dan detail, dan memandang pembelajaran visual itu sebagai orang cacat. Jadi yang disebut sebagai krisis dalam pendidikan dan pembelajaran ini sebetulnya hanyalah kegagalan sekolah mengidentifikasi otak, fikiran dan gaya belajar peserta didiknya, kemudian ketidaktahuan menemukan model pembelajaran terbaik baginya, demikian Freed dan Parsons (2006). Geoge Dorry seorang psikolog Attention Deficit Desorder mengungkapkan rasa kekecewaannya terhadap sikap para pendidik/guru yang selalu mengatakan seorang anak "tidak mampu belajar" hanya karena keterbatasan pemahamannya tentang peserta didik, seperti ketidakpahamannya tentang kerja otak dan gaya belajar peserta didiknya.

Hal semacam ini sering terjadi, siswa menjadi bodoh karena mengalami proses pembodohan oleh pendidik/gurunya sendiri, seperti halnya penyandang cacat menjadi tidak berdaya bukan karena kecacatannya, melainkan lebih disebabkan oleh perlakuan masyarakat terhadap mereka yang tidak memberdayakannya. Orang bijak mengajari kita; "Janganlah menghakimi seseorang sebelum menjadi dirinya. Dunia ini dipenuhi oleh banyak orang yang tajam mata dan jauh pandangnya melihat kesalahan orang lain, tetapi ia menjadi buta mata dan hatinya ketika melihat kelemahan dirinya sendiri".

Howard Gardner (1991) dalam bukunya berjudul "The Unschool Mind" mengatakan bahwa yang terpenting dalam pendidikan dan pembelajaran adalah pemahaman kita tentang bagaimana anak berfikir, dan bagaimana seharusnya pembelajaran bagi mereka. Santiago Ramon y Cajal seorang yang lebih dikenal "Bapak Anatomi Otak" memberikan tambahan penjelasan, yakni; "perkembangan dan pertumbuhan cepat fisik otak sendiri dan jaringan saraf di dalamnya terutama tergantung pada umpan balik dari kegiatan orang yang bersangkutan", demikian dikutif dari Win Wenger (2003) dalam bukunya "Beyond Teaching and Learning".

Sekolah saat ini telah gagal menyekolahkan otak peserta didiknya, karena tidak memahami kerja otak, kita lebih banyak mengatasi kegagalan belajar dengan merusak otak. Sebagian pendidik tidak pernah memperoleh informasi tentang kerja otak manusia, karena ada yang berpandangan bahwa pembelajaran tentang "Otak atau Neurologi" tersebut adalah subject matters di sebuah sudut kecil fakultas kedokteran.

Kenyataannya di di era kebangkitan otak kanan telah memberikan implikasi terhadap dunia pendidikan dewasa ini, misalnya kurikulum sekolah medis/kedokteran di Amerika sedang mengalami perubahan terbesar dalam sejarahnya, yakni para mahasiswa sedang mempelajari pengobatan cerita dan terapi kuasa kata, karena riset memperlihatkan bahwa kendati kekuatan diagnosa komputer, namun bagian penting dari diagnosa terdapat dalam cerita dan bahasa pasien. Dan sedikitnya 50% sekolah medis/kedokteran di seluruh Amerika Serikat telah memasukkan spritualitas ke dalam kurikulumhnya. Di samping itu prestisius Sekolah Bisnis Harvard telah bergeser kepada Master Fine Art (MFA) dimana ijazahnya paling diminati di dunia saat ini, demikian Daniel H. Pink (2006).

Otak bekerja berdasarkan sebuah prinsip "use it ar lose it". Otak tidak sekolah disebabkan oleh banyak faktor, diantara sistem pendidikan dan pembelajaran yang tidak memfasilitasi pertumbuhan organ yang merupakan jati diri kita ini, dan mempersulit para pendidik/guru untuk memahami dan melaksankan pembelajaran yang mendidik. Mungkin sudah saatnya untuk memikirkan kembali pendidikan di negeri yang katanya ingin mencerdaskan kehidupan bangsa ini agar anak datang ke sekolah tidak hanya untuk membayar SPP, duduk, diam, dan pulang.

[..Baca Selengkapnya..]

Menggugat Rezim Otak Kiri (1)

DUNIA pendidikan kita kini sedang dalam kondisi kritis dan memprihatinkan. Penyebabnya bukan saja anggaran pemerintah yang relatif rendah, tetapi juga ketiadaan visi serta politik pendidikan nasional yang jelas. Konsep pendidikan pun tereduksi menjadi sekadar kegiatan pengajaran yang dipersempit menjadi kegiatan kelas. Kini yang berlangsung di kelas, guru hanya mengejar target kurikulum sementara peserta didik dipacu mengejar Nilai Ebtanas Murni (kini Nilai UAN Murni).


Karena itu, apa pun kebijakan dan inovasi pendidikan yang telah dilakukan pemerintah maupun kalangan swasta, sadar atau tidak lebih diperuntukkan bagi mereka yang ber-intelligence quotient (IQ) tinggi. Padahal, fakta menunjukkan peserta didik yang memiliki otak relatif "encer", paling banyak hanya sekitar 10 persen-30 persen. Terlebih bila dikaitkan dengan model kurikulum di Indonesia yang tidak mengenal gradasi kemampuan peserta didik mulai dari yang kurang, rata-rata, pandai, hingga genius. Kendati saat ini beberapa sekolah mulai mencoba membuka kelas akselerasi dan kelas imersi, tidak pada tempatnya bila kita semata-mata menyalahkan peserta didik: yang tidak berdisiplin, yang malas belajar, tatkala menjumpai kualitas hasil belajar mereka cenderung terus menurun.

SEPERTI pernah dikatakan Pater Drost SJ (2000), sekolah kita kian lama kian menyangkal adanya gradasi kemampuan peserta didik. Di tahun 1950-an masih ada beberapa jenis sekolah, misalnya SMP-A, SMP- B, SMEP, SKP, ST, SMEA, SMA A, B, C (SMA IPA, SMA IPS, SMA Bahasa). Namun, sejak 1994 muncul pengebirian varian pada tiap jenjang sekolah sehingga untuk jenjang lanjutan pertama, yang ada hanya SMP dan SMA untuk jenjang lanjutan atas. Meski sekolah kejuruan menengah atas tetap ada, atensi lebih banyak diberikan kepada SMA. Yang mengherankan, pemerintah malah asyik dengan bermain singkatan kata (word abbreviation) yang tidak memiliki urgensi apa-apa; seperti misalnya SMP dan SMA diubah menjadi SLTP dan SMU serta pembakuan berbagai sekolah kejuruan menengah atas menjadi SMK. Namun, pada akhirnya tahun ini diputuskan untuk kembali lagi menjadi SMP dan SMA.

Bila sekolah memang hanya ditujukan untuk mereka yang berotak "encer", bagaimana nasib peserta didik yang hanya dianugerahi kepandaian sedang atau kurang? Tegakkah kita melihat emotional quotient mereka hancur lalu menjadi generasi frustrasi? Bagaimana seandainya mereka lalu melakukan penyimpangan-penyimpangan (delinquency) sebagai manifestasi pembelaan diri (defence mechanism)? Memang tidak dimungkiri, tugas sekolah adalah membentuk insan-insan intelektual yang mampu dan sanggup menjadi manusia demi manusia lain dalam lingkup profesinya. Namun, jangan lantas keburu menggarisbawahi intelektualitas saja dan melupakan yang empunya, yakni manusia. Artinya, selain penekanan aspek kognitif, pembentukan watak, karakter, harkat, dan martabat harus mendapat porsi seimbang.

Namun, dengan pengidolaan ilmu matematika, aritmatika, fisika, maupun kimia oleh orangtua dan guru serta menjadikan arogansi peserta didik yang meminatinya, menunjukkan sekolah rupanya sedang digiring ke ranah teknologis yang bersifat logis, rasional atau masuk akal. Sampai-sampai mata pelajaran agama pun diakses sekadar sebagai sebuah ritual, seremonial, tanpa pemahaman spiritual yang memerlukan pemikiran lebih daripada hanya menghafal yang menjadi porsi otak kiri. Dengan demikian, bila tidak memiliki kemampuan memorisasi cukup tinggi, peserta didik akan terdaftar dan terdata sebagai yang kurang berhasil dalam pendidikan. Dengan kata lain, memorisasi dianggap sebagai sebuah produk utama yang akan menunjang keberhasilan seseorang di masa depan.

YANG harus betul-betul dicermati kini adalah saat kurikulum pendidikan disetel dominan ke arah pembelajaran hafalan atau otak kiri, apakah kita juga menyadari, sebenarnya kita sedang dibentuk menjadi robot yang kualitasnya lebih bersifat materi saja? Ketika itu kita tarik dalam cakupan makro, maka akan terlihat motivasi jajaran elite pendidikan yang ingin mencetak generasi muda menjadi intelektual-intelektual tukang untuk melanggengkan sebuah dinasti. Hal ini banyak terjadi di negara dengan sistem yang jelas membatasi rakyatnya berpikir divergent atau negara yang mempraktikkan pseudodemokrasi.

Bagi yang nekat mengembangkan pola pikir divergent, mereka akan mudah dicap sebagai subversif karena keluar dari pakem yang sama artinya dengan menentang penguasa. Hal ini jelas akan memudahkan penguasa dalam mengorganisasi dengan cara totaliter dan otoriter. Mereka tidak akan dipusingkan oleh ulah provokator kreatif sebab hanya dikelilingi rakyat "berotak kiri" yang sulit bereaksi kendati mengalami tekanan dalam segala bidang. Sebuah bentuk pembajakan otak untuk tidak berpikir kreatif dan keluar dari jalur (lateralthinking).

Maka, bila lembaga-lembaga pendidikan masih saja tak bergeming dari penekanan sequentialitas, linieritas, dan detailitas pola berpikir peserta didik, produk yang dihasilkan pun akan lebih berorientasi pada pakem, ketundukkan, dan kepatuhan dibandingkan dengan attitude dan meaning of life. Kemapanan dan status quo mungkin akan menjadi moto hidup sehingga ketika mereka memiliki otoritas pun akan memersepsikannya sebagai sebuah kelanggengan. Bawahan atau pengikutnya akan dikendalikan sedemikian rupa sehingga hanya mampu berpikir mekanis. Artinya, bawahan tidak akan berbuat macam-macam yang tujuannya mengguncang kekuasaan.

Jadilah generasi terdidik kita bermental pegawai yang miskin imajinasi dan lemah karakter serta cenderung mengabdi pada kapitalisme-kapitalisme. Mereka terdegradasi status dan martabatnya sebagai pemeran pembantu atau obyek penderita. Padahal menurut Amartya Sein, peraih hadiah Nobel dari India, dalam buku Development as Freedom, tolok ukur keberhasilan pendidikan khususnya adalah seberapa jauh semua usaha yang telah dilakukan memberi ruang dan fasilitas yang lebih luas bagi pengembangan kepribadian dan kebebasan masyarakatnya. Dengan kata lain, proses dan hasil pembangunan dinilai gagal bila tidak mampu meningkatkan harkat kemanusiaan. Terlebih harus disadari, tren dunia pendidikan abad 21 ini tidak dapat lagi memusatkan pada kemampuan teknikal dalam melakukan eksplorasi dan eksploitasi alam sebagaimana abad-abad sebelumnya, tetapi bagaimana mengembangkan potensi manusia.

Mengacu pada hasil sebuah penelitian neuropsikologi membuktikan, potensi manusia yang sudah teraktualisasikan baru sekitar 10 persen sehingga masih terbuka segala kemungkinan yang berkaitan dengan peradaban manusia di masa datang, baik yang bersifat positif maupun negatif. Tentu saja yang diharapkan adalah adanya inovasi-inovasi yang positif sehingga prestasi peradaban akan dapat diraih secara cepat dan efektif. Kemudian muncul istilah-istilah seperti brainware management yang intinya bagaimana mengoptimalkan potensi mind dan brain, quantum learning, accelerated learning, learning revolution, dan sebagainya. Asumsi jika mampu menggunakan potensi nalar dan emosi secara jitu, manusia akan mampu membuat loncatan-loncatan prestasi yang tidak bisa diduga sebelumnya.

Namun, jangan diinterpretasikan, menggugat dominasi otak kiri berarti ingin menafikan perannya, tetapi lebih pada bagaimana menciptakan equilibrium (keseimbangan). Dari sudut pandang filsafat, keseimbangan artinya tidak ada kanan maupun kiri, tidak ada atas maupun bawah. Ia tidak membutuhkan posisi ekstrem. Keseimbangan berarti tidak ada apa-apa, kosong; kekosongan yang seimbang. Demikian halnya dengan keseimbangan berpikir. Ketika tercapai keseimbangan berpikir, sebenarnya tidak terjadi apa-apa. Hanya saja kita tidak akan tahu bagaimana keseimbangan berpikir itu tercapai. Bahkan kita juga tidak tahu dalam posisi keseimbangan yang bagaimana. Oleh karena itu, jangan berpikir mengenai hasil akhir karena hanyalah sebuah reward of journey. Sementara the destination of journey adalah sebuah keyakinan bahwa keseimbangan itu sendiri adalah hidup.

KITA semua memahami, berpikir adalah sebuah pekerjaan mental, baik dengan otak kanan maupun kiri. Yang membedakan hanya karakter pandang masing-masing belahan. Selanjutnya tergantung bagaimana kita memberdayakan karakter-karakter yang ada. Jumlahnya pun di masing-masing belahan tidak tergolong sedikit, sekitar 40 karakter. Memang karakter itu sendiri tidak kasad mata sehingga tidak mengherankan bila kita melupakannya. Yang jelas, masih banyak karakter otak kanan yang sama sekali tidak berkembang atau sengaja tidak dikembangkan sejak lahir. Sekian banyak karakter otak kanan terabaikan hanya karena kuatnya sebuah rezim mengangkangi pola berpikir kita.

Saat banyak orang tersadar otak kanan mesti diberdayakan, dunia usaha pun jeli menangkap peluang. Maka, menjamurlah kursus-kursus tentang emotional quotient yang menawarkan pembelajaran perihal karakter emosi. Tidak hanya itu, peserta pun diberi garansi akan mencapai kematangan emosi dengan data akurat berupa skor angka setelah melewati berbagai tes. Tanpa sadar, mereka yang mengikuti kursus itu terjebak sebuah kamuflase. Modul pelatihan diarahkan ke otak kanan, tetapi proses pelatihan itu sendiri masih mempergunakan otak kiri yang mekanis. Selain itu, aspek emosi seharusnya tidak boleh diukur dalam sebuah tes layaknya mengukur IQ, lalu diangkakan lewat penghitungan matematis. Bukankah itu sebuah upaya pembodohan serta siasat licik dunia bisnis yang lagi-lagi mengabdi pada kapitalisme-materialisme?

Karena itu, insan-insan yang berkiprah di dunia pendidikan mulai sekarang harus memberanikan diri mereformasi pola berpikir yang selama ini mengekor pada pola politik pemerintahan atau rezim tertentu demi melanggengkan status quo. Jadilah pendidik yang berkapasitas otak baru dan seimbang, kanan dan kiri, layaknya sebuah orkestra yang apik. Lalu, tularkan kepada peserta didik sembari mengajak mereka belajar menyiapkan kehidupan masa depan secara holistis dan terpadu sehingga mereka benar-benar menemukan quality of life yang sejati.


[..Baca Selengkapnya..]

Minggu, 06 Juli 2008

MIND MAPPING DALAM METODE QUANTUM LEARNING

Dalam proses belajar siswa mendapatkan pertambahan materi berupa informasi mengenai teori, gejala, fakta ataupun kejadian-kejadian. Informasi yang diperoleh akan diolah oleh siswa. Proses pengolahan informasi melibatkan kerja sistem otak, sehingga informasi yang diperoleh dan telah diolah akan menjadi suatu ingatan.

Ingatan merupakan suatu proses biologi, yaitu pemberian kode-kode terhadap informasi dan pemanggilan informasi kembali ketika informasi tersebut dibutuhkan. Pada dasarnya ingatan adalah sesuatu yang membentuk jati diri manusia dan membedakan manusia dari mahluk hidup lainnya. Ingatan memberikan titik-titik rujukan pada masa lalu dan perkiraan pada masa depan. Ingatan merupakan reaksi kimia elektrokimia yang rumit yang diaktifkan melalui beragam saluran inderawi dan disimpan dalam jaringan saraf yang sangat rumit dan unik di seluruh bagian otak. Ingatan dibentuk melalui berfikir, bergerak dan mengalami hidup (rangsangan inderawi). Semua pengalaman yang dirasakan akan disimpan dalam otak, kemudian akan diolah dan diurutkan oleh struktur dan proses otak mengenai nilai dan kegunaannya ( Eric Jensen. 2002:21 )

Berdasarkan tahapan evolusi, otak pada mahluk hidup terbagi menjadi tiga bagian yaitu, batang atau otak reptilia (Primitif). Sistem limbic atau otak mamalia, dan neokorteks. Masing-masing berkembang dalam waktu yang berbeda dalam sejarah evolusi mahluk hidup. Perkembangan evolusi pertama adalah otak reptile memiliki peranan yang berkaitan dengan insting pertahanan hidup, bernafas, mencari makan, dan dorongan untuk mengembangkan spesies.Manusia memiliki unsur-unsur yang sama dengan reptilia dan otak reptil merupakan komponen kecerdasan terendah dari manusia ( Bobbi de Poter dan Hernacki, 1999:26-28 ). Lebih lanjut Taufik Bahaudin ( 1999: 42 ) menjelaskan, disekeliling otak reptil terdapat sistem limbik yang disebut sebagai otak mamalia atau paleo mamalian, otak ini berkaitan dengan perasaan atau emosi, memori, bioritmik dan sistem kekebalan. Sistem limbik memungkinkan untuk merekam suatu kejadian yang menyenangkan. Bagian ketiga, neokorteks atau otak neomamalian, otak ini terbungkus dibagian atas dan sisi-sisi sistem limbik. Otak neomamalian memiliki kemampuan belajar, berbicara, mengembangkan kreativitas, memehami angka-angka, memecahkan masalah dan dapat menentukan perilaku dalam berhubungan dengan orang atau mahluk lain ataupun dengan lingkungan.

Otak merupakan organ tubuh yang kompleks. Otak manusia merupakan otak yang paling sempurna dibandingkan dengan otak binatang lainnya termasuk otak binatang mamalia, otak manusia memiliki kemampuan untuk belajar oleh karena itu otak manusia dapat dikatakan sebagai otak belajar. Hal ini yang dapat membedakan otak manusia dengan otak binatang mamalia terletak pada fungsi sistem limbik.

Sistem limbik pada otak binatang mamalia hanya digunakan hanya untuk hal-hal yang sederhana seperti kemampuan binatang merekam sesuatu yang meyenagkan dan tidak meyenangkan. Sedangkan sistem limbik pada manusia memiliki fungsi yang sangat kompleks. Otak manusia terbagi atas cereblal cortex disebut neo cortex, basal ganglia, sistem limbik, otak tengah, batang otak, dan otak kecil. Neocortex disebut juga “the thinking cap” atau otak berfikir atau otak rasional yang sekaligus menjadi bagian otak luar yang menutupi bagian otak yang ada di dalam yaitu sistem limbik. Neocortex meliputi 80 persen dari seluruh volume otak manusia. Neocortex pada otak manusia memberikan kemampuan untuk berfikir, berpersepsi, berbicara berprilaku dan sebagainya ( Taufik Bahaudin, 1999:57-60 ).

Sistem limbic atau disebut juga sebagai otak emosional yang merupakan pusat otak yang berperan dalam mengendalikan emosi. Sistem limbic berasal dari bahasa latin Limbus yang artinya kerah atau cincin yang membungkus batang otak seperti kerah ( Gordon Dryden dan Jeannette Vos. 2003:117 ).Lebih lanjut Taufik Bahaudin (1999:60 ) menjelaskan bahwa sistem limbic memberikan konstribusi yang mendasar terhadap proses belaja, yaitu melakukan peran vital dalam meneruskan informasi yang diterima kedalalm memori. Sistem limbic juga terkait dengan peran thalamus dan hypothalamus yang berperan dalam mengatur suhu tubuh, keseimbangan kimia tubuh, detak jantung, tekanan darah dan seks. Sistem limbic merupakan pusat pengaturan emosi seperti marah, senang, rasa lapar, haus, kenyang dan lainnya. Sistem limbic juga terlibat dalam bekerjanya sistem ingatan,l yaitu pengiriman informasi dari ingatan berjangka pendek ke ingatan jangka panjang.

Neocortex atau cerebral cortex terbagi menjadi dua belahan, yaitu belahan otak kanan dan belahan kiri. Masing-masing kedua belahan ini bertanggung jawab terhadap cara berpikir dan masing-masing memiliki spesialisasi dalam kemampuan – kemampuan tertentu (Bobbi de Porter dan Hernacki,1999:28). Lebih lanjut Taufik Bahaudin (1999:45) menjelaskan bahwa, belahan otak kanan terkait mengenai gambar,imajinasi, warna, ritme dan ruang. Otak kiri berkenaan dengan angka-angka,, kata-kata, logika, urutan atau daftar dan rincian–rincian.

Secara umum otak kiri memainkan peranan penting dalam pemrosesan logika.kata-kata, matematika dan urutan atau yang disebut sebagai otak yang berkaitan dengan pembelajaran akademis. Oatak kana berkaitan dengan irama, rima, musik. Gambar dan imajinasi atau yang disebut sebagai otak berkaitan dengan aktivitas kreatif. Kedua belahan otak ini dihubungkan oleh corpus collosum yang secara konstan manyeimbangkan pesan-pesan yang datang dan menggabungkan gambar yang abstrak dan holistik dengan pesan kongkret dan logis ( Gordon Dryden Jeannette Vos. 2003:125 ).

Sebagian besar orang hanya menggunakan otak kirinya sebagai berkomunikasi dan perolehan informasi dalam bentuk verbal ataupun tertulis. Bidang pendidikan, bisnis, dan sains cenderung yang digunakan adalah otak belahan kiri. Dalam proses belajar siswa selalu dituntut untuk mempergunakan belahan otak kiri ketika menerima materi pelajaran. Materi pelajaran akan diubah dan diolah dalam bentuk ingatan. Terkadang siswa tidak dapat mempertahankaan ingatan tersebut dalan jangka waktu yang lama. Hal itu disebabkan karena tidak adanya keseimbangan antara kedua belahan otak yang akhirnya dapat menimbulkan terganggunya kesehatan fisik dan mental seseorang.

Untuk menyeimbangkan kecenderungan salah satu belahan otak maka diperlukan adanya masukan musik dan estetika dalam proses belajar. Masukan musik dan estetika dapat memberikan umpan balik positif sehingga dapat menimbulkan emosi positif yang membuat kerja otak lebih efektif ( Bobbi de Porter dan Hernacki.1999:38 )

Informasi yang diperloleh siswa dalam bentuk materi pelajaran akan diolah dan dismpan menjadi sebuah ingata. Ingatan jangka pendek yang diubah menjadi sebuah ingatan jangka panjang memerlukan keterlibaan kerja sistim limbic. Siswa menginginkan matri pelajaran yang diterima dalam proses belajar menjadi se buah ingatan jangka panjang. Siswa melakukan berbnagai hal untuk menyimpan ingatan tersebut menjadi ingatan jangka panjang, salah satunya dengan mencatat materi pelajaran yang telah dipelajari,

Mencatat merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan daya ingat. Otak manusia dapat menyimpan segala sesuatu yang dilihat, didengar dan dirasakan. Tujuan pencatatan adalah membantu mengingat informasi yang tersimpan dalam memori tanpa mencatat dan mengulangi informasi, siswa hanya mampu mengingat sebagian kecil materi yang diajarkan.

Umumnya siswa membuat catatan tradisional dalam bentuk tulisan linier panjang yang mencakup seluruh isi materi pelajaran, sehingga catatan terlihat sangat monoton dan membosankan. Umumnya catatan monoton akan menghilangkan topik-topik utama yang penting dari materi pelajaran.

Otak tidak dapat langsung mengolah nformasi menjadi bentuk rapi dan teratur melainkan harus mencari, memilih, merumuskan dan merangkainya dalam gambar-gambar, simbol-simbol, suara, citra, bunyi dan perasaan sehingga informasi yang keluar satu persatu dihubungkan oleh logika, diatur oleh bahasa dan menghasilkan arti yang dipahami. Teknik mencatat dapat terbagi menjadi dua bagian. Pertama catat, tulis, susun (CTS), yaitu teknik mencatat yang mampu mensinergiskan kerja otak kiri dengan otak kanan, sehingga konsentrasi belajar dapat meningkat sepuluh kali lipat. Catat , tulis , susun , menghubungkan apa yang didengaran menjadi poin-poin utama dan menuliskan pemkiran dan kesan dari materi pelajaran yang telah dipelajari (Bobbi de Portyer dan Hernacki, 1999: 152).

Teknik mencatat kedua, pemetaan pikiran (mind mapping), yaitu cara yang paling mudah untuk memasuk informasi kedalam otak dan untuk kembali mengambil informasi dari dalam otak. Peta pemikiran merupakan teknik yang paling baik dalam membantu proses berfiki otak secara teratur karena menggunakan teknik grafis yang bearsal dari pemkiran manusia yang bermanfaat untuk menyediakan kunci-kunci universal sehingga membuka potensi tak (Tonny dan Bary Buzan, 2004: 68).

Mind merupakan gagasan berbagai imajinasi. Mind merupakan suatu keadaan yang timbul bila otak (brain) hidup da sedang bekerja (Taufik Bahaudin, 1999: 53). Lebih lanjut Bobbi de Porter dan Hernacki (199: 152) menjelaskan, peta pikiran merupakan teknik pemanfaatan keseluruhan otak dengan menggunakan citra visual dan prasarana grafis lainnya untuk membentuk suatu kesan yang lebih dalam.

Peta pikiran adalah teknik meringkas bahan yang akan dipelajari dan memproyeksikan masalah yang dihadapi ke dalam bentuk peta atau teknik grafik sehingga lebih mudah memahaminya Iwan Sugiarto, 2004:75).

Pemetaan pikiran merupakan teknik visualisasi verbal ke dalam gambar. Peta pikiran sangat bermanfaat untuk memahami materi, terutama materi yang diberikan secara verbal. Peta pikiran bertujuan membuat materi pelajaran terpola secara visual dan grafis yang akhirnya dapat membantu merekam, memnperkuat, dan mengingat kemabli informasi yang telah dipelajari (Eric Jensen, 2002: 95).

Berikut ini disajikan perbedaan antara catatan tradisioanl (catatan biasa) dengan catatan pemetaan pikiran (mind mapping).

Tabel 1. Perbedaan Catatan Biasa dan Mind Maping

Catatan Biasa

1. hanya berupa tulisan-tulisan saja
2. hanya dalam satu warna
3. untuk mereview ulang memerlukan waktu yang lama
4. waktu yang diperlukan untuk belajar lebih lama
5. statis

Peta Pikiran
1. berupa tulisan, symbol dan gambar
2. berwarna-warni
3. untuk mereview ulang diperlukan waktu yang pendek
4. waktu yang diperlukan untuk belajar lebih cepat dan efektif
5. membuat individu menjadi lebih kreatif.


Dari uraian tersebut, peta pikiran (mind mapping) adalah satu teknik mencatat yang mengembangkan gaya belajar visual. Peta pikiran memadukan dan mengembangkan potensi kerja otak yang terdapat di dalam diri seseorang. Dengan adanya keterlibatan kedua belahan otak maka kan memudahkan seserorang untuk mengatur dan mengingat segala bentuk informasi, baik secara tertulis maupun secara verbal. Adanya kombinasi warna, simbol, bentuk dan sebagainya memudahkan otak dalam menyerap informasi yang diterima.

Peta pikiran yang dibuat oleh siswa dapat bervariasi setiap hari. Hal ini disebabkan karena berbedanya emosi dan perasaan yang terdapat dalam diri siswa setiap harinya. Suasana menyenangkan yang diperoleh siswa ketika berada di ruang kelas pada saat proses belajar akan mempengaruhi penciptaan peta pikiran. Tugas guru dalam proses belajar adalah menciptakan suasana yang dapat mendukung kondisi belajar siswa terutama dalam proses pembuatan mind mapping.

Quantum merupakan interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Quantum leanrnning merupakan seperangkat metode dan falsafah belajar yang terbukti efektif untuk semua umur. Quantum learning berakar dari uapaya Dr. Georgi Lozanov, seorang psikolog yang berupaya mengembangkan prinsip yang disebut “suggestology” atau “suggestopedia. Menurutnya sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil belajar dan setiap detil keadaan apapun memberikan sugesti positif atau negative (Bobbi de Porter, 1999: 14).

Proses belajar yang dialami seseorang sangat bergantung kepada lingkungan tempat belajar. Jika lingkungan belajar dapat memberikan sugesti positif, maka akan baik dampaknya bagi proses dan hasil belajar, sebaliknya jika lingkungan tersebut memberikan sugesti positif maka akan buruk dampak nya bagi proses dan hasil belajar. Lingkungan belajar yang baik akan memberikan kekuatan AMBAK (apa manfaatnya bagiku) dalam diri siswa. Jika siswa memiliki kekuatan tersebut, maka siswa akan termotivasi untuk melakukan kegiatan

Motivasi merupakan kekuatan atau daya. Motivasi merupakan suatu keadaan yang kompleks dan kesiapsediaan dalam diri individu untuk bergerak ke arah tujuan tertentu, baik disadari maupun tidak disadari (Makmun, 2000: 37).

Motivasi dapat muncul karena adanya sugesti positif dari siswa sebagai akibat dari lingkungan belajar yang menyenangkan. Suasana dan keadaan ruangan kelas menunjukkan arena belajar yang dapat mempengaruhi emosi sehingga sugesti-sugesti tersebut menjadi cahaya yang mampu menjadi lokomotif yang dapat membangkitkan energi belajar. Sebagaimana rumus fisika yang terkenal dengan rumus kuantum E = mc2 , energi merupakan masa kali kecepatan cahaya kuadrat.Tubuh secara fisik dapat diartikan sebagai materi Agar menghasilkan banyak energi cahaya, maka siswa berusaha menjalin interaksi, hubungan dan inspirasi (Nandang Hidayat , 2004).

Quantum Learning Memadukan Suggestology, neuroligistik (NLP) dan mempercepatan belajar dengan teori. Neuroligistik (NLP), yaitu suatu penelitian yang mengkaji bagaimana otak mengatur informasi yang ada. Adanya hubungan antara keterlibatan emosi, memori jangka panjang dan belajar. Neuorolinguistik dapat digunakan untuk menciptakan jalinan pengertian diantara siswa dan guru (Bobbi de Porter dan Hernacki, 1999:14).

Neuro-Linguistik Programming (NLP), berbicara mengenai bagaimana cara pengendalian fisiologis bisa mempengaruhi atau mengendalikan emosi dan otak. Tinggi rendahnya kemampuan fisiologis ini tergantung pada tinggi atau rendahnya tingkat kesehatan tubuh. Secara sederhana NLP berperan melalui pengendalian fisiologis yang baik dapat meningkatkan atau mengembangkan pola pikir yang lebih baik. Pola pikir yang membuat perilaku seseorang sehari-hari menjadi kompetitif, mampu mencapai hasil kerja yang luar biasa dan pada akhirnya akan membuat seseorang mencapai kehidupan yang lebih baik dan bernilai (Taufik Bahaudin, 1999:332).

Daniel Goleman menjelaskan, seseorang dalam menjalani kehidupan dan belajar bukan saja melibatkan IQ tetapi juga melibatkan emosi Suasana dan pikiran, kekuatan emosi), bekerja sama dalam pikiran dan rasional, mengaktifkan atau menonaktifkan pikiran sehingga dapat menuntun keputusan seseorang setiap waktu. IQ tidak dapat bekerja pada puncaknya jika tidak ada keterlibatan emosional (Bobbi de Porter dkk,2000:22)

Perpaduan quantum learning lainnya adalah pemercepatan belajar (accelerated learning), merupakan seperangkat metode dan teknik pembelajaran yang memungkinkan anak didik dan kecepatan yang mengesankan, tetapi melalui upaya normal dengan penuh keceriaan. Belajar quantum menyatukan permainan. Hiburan, cara berfikir dan bersikap positif. Kebugaran fisik dan kesehatan emosional yang terpelihara dan dikemas secara sinergis dalam aktivitas pembelajaran mendorong terjadinya pemercepatan belajar (Nandang Hidayat.2004).

Berdasarkan uraian pengertian quantum learning dapat ditarik kesimpulan bahwa quantum learning adalah suatu metode belajar yang memadukan antara berbagai sugesti positif dan inteksinya dengan lingkungan yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar seseorang. Lingkungan belajar yang menyenangkan serta munculnya emosi sebagai keterlibatan otak dapat menciptakan sebuah interaksi yang baik dalam proses belajar yang akhirnya dapat menimbulkan motivasi yang tinggi pada diri seseorang sehingga secara langsung dapat mempengaruhi proses belajar.

1. Pengaruh Metode Quantum Learning dengan Teknik Peta Pikiran (mind mapping) terhadap Prestasi Belajar Siswa

Prestasi belajar adalah puncak hasil belajar yang dapat mencerminkan hasil keberhasilan belajar siswa terhadap tujuan belajar yang telah ditetapkan. Hasil belajar siswa dapat meliputi aspek kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotorik (tingkah laku). Salah satu tes yang dapat melihat pencapaian hasil belajar sisiwa adalah dengan melakukan tes prestasi belajar. Tes prestasi belajar yang dilaksanakan oleh siswa memiliki peranan penting, baik bagi guru ataupun bagi siswa yang bersangkutan. Bagi guru, tes prestasi belajar dapat mencerminkan sejauh mana materi pelajaran dalam proses belajar dapat diikuti dan diserap oleh siswa sebagai tujuan instruksional. Bagi siswa tes prestasi belajar bermanfaat untuk mengetahui sebagai mana kelemahan-kelemahannya dalam mengikuti pelajaran.

Mind mapping atau pemetaan pikiran merupakan salah satu teknik mencatat tinggi. Informasi berupa materi pelajaran yang diterima siswa dapat diingat dengan bantuan catatan. Peta pikiran merupakan bentuk catatan yang tidak monoton karena mind mapping memadukan fungsi kerja otak secara bersamaan dan saling berkaian satu sama lain. Sehngga akan terjadi keseimbangan kerja kedua belahan otak. Otak dapat menerima informasi berupa gambar, simbol, citra, musik dan lain lain yang berhubungan dengan fungsi kerja otak kanan.

Pembelajaran konvensional adalah pembelajaran yang memusatkan kegiatan belajar pada guru. Siswa hanya duduk, menengarkan dan menerima informasi. Cara penerimaan informasi akan kurang efektif karena tidak adanya proses penguatan daya ingat, walaupun ada proses penguatan yang berupa pembuatan catatan, siswa membuat catatan dalam bentuk catatan yang monoton dan linear.

Penggunaan metode pembelajaran yan sesuai sangat menentukan keberhasilan belajar siswa. Dengan metode pembelajaran yang yang sesuai siswa dapat mencapai prestasi belajar yang tinggi dan dapat mengembangkan potensi yang tersimpan dalam dirinya. Metode quantum learning adalah metode yang sangat tepat untuk pencapian hasil belajar yang diinginkan dan untuk pengembangan potensi siswa. proses belajar siswa sangat dipengaruhi oleh emosi di dalam dirinya, emosi dapat mempngaruhi pencapaian hasil belajar apakah hasilnya baik atau buruk. Metode pembelajaran kuantum berusaha menggabungkan kedua belahan otak yakni otak kiri yang berhubungan dengan hal yang bersifat logis (seperti belajar) dan otak kanan yang berhubungan dengan keterampilan (aktivitas kreatif).

Salah satu teknik mencatat yang dikembangkan dalam metode pembelajaran kuantum adalah teknik pemetaan (mind mapping). Dengan digunakannya mind mapping maka akan terjadi keseimbangan kerja kedua belahan otak. Dengan adanya teknik mind mapping atau pemetaan pikiran diduga prestasi siswa akan meningkat.

2. PengaruhMetode Quantum Learning dengan Teknik Peta Pikiran (Mind Mapping) terhadap kreativitas (sikap kreatif siswa).

Kreativitas adalah segala potensi yang terdapat dalam setiap diri individu yang meliputi ide-ide atau gagasan-gagasan yan dapat dipadukan dan dikembangkan sehingga data menciptakan suatu produk yang baru dan bermanfaat bagi diri dan lingkungannya. Kreativitas muncul karena adanya motivasi yang kuat dari diri individu yang bersangkutan. Produk dari kreativitas dapat dihasilkan melalui serangkaian tahapan yang memerlukan waktu relatif lama. Secara efektif individu kreatif memiliki ciri rasa ingin tahu yan besar, tertarik terhadap tugas-tugas majemuk yang dirasakan sebagai tantangan, berani mengambil resiko untuk membuat kesalahan, mempnyai rasa humor, ingin mencari pengalaman-pengalaman baru

Mind mapping dapat menghubungkan ide baru dan unik dengan ide yang sudah ada , sehingga mnimbulkan adanya tindakan spesifik yang dilakukan oleh siswa. dengan penggunaan warna dan simbol –simbol yang menari akan menciptakan suatu hasil pemetaan pikiran yang baru dan berbeda. Pemetaan pikiran merupakan salah satu produk kreatif yang dihasilkan oleh siswa dalam kegiatan belajar

Siswa cenderung membuat catatan dalam bentuk linier dan panjang sehingga siswa mengalami kesulitan dalam mencari pokok ataupun point-point materi pelajaran yang telah dipelajari. Dalam metode konvensional siswa tidak banyak terlibat baik dari segi berfikir dan bertindak. Siswa hanya menerima informasi yang telah diberikan oleh guru tanpa adanya keterlibatan kegiatan psikomotoriknya.

Sistem limbic pada otak manusia memiliki peranan penting dalam penyimpanan dan pengaturan informasi (memori) dari memori jangka pendek menjadi memori jangka panjang secara tepat. Dalam proses belajar, siswa meginginkan materi pelajaran yang diterima menjadi memori jangka panjang sehingga ketika materi tersebut diperlukan kembali siswa dapat mengingatnya. Belahan neocortex juga memiliki peranan penting dalam penguatan memori. Belahan otak kiri yang berkaitan dengan kata-kata, angka, logika, urutan, dan rincian (aktivitas kademik). Belahan otak kanan berkaitan dengan warna, gambar, imajinasi, dan ruang atau disebut sebagai aktivitas kreatif. Jika kedua belahan neocortex ini dipadukan secara bersamaan maka informasi (memori) yang diterima dapat bertahan menjadi memori jangka panjang. Mind mapping merupakan teknik mencatat yang memadukan kedua belahan otak. Sebagai contoh, catatan materi pelajaran yang dimiliki siswa dapat dituangkan melalui gambar, simbol dan warna. Mind Mapping mewujudkan harapan siswa untuk memori jangka panjang. Materi pelajaran yang dibuat dalam bentuk peta pikiran akan mempermudah sistem limbic memproses informasi dan memasukkannya menjad memori jangka panjang.

Keuntungan lain penggunaan catatan mind mapping yaitu membiasakan siswa untuk melatih aktivitas kreatifnya sehingga siswa dapat menciptakan suatu produk kreatif yang dapat bermanfaat bagi diri dan lingkungannya. Hal lain yang berkaitan dengan sistim imbik yaitu peranaannya sebagai pengatur emosi seperti marah, senang, lapar, haus dan sebagainya. Emosi sangat diperlukan untuk menciptakan motivasi belajar yang tinggi. Motivasi yang tinggi dapat menambah kepercayaan diri siswa, sehingga siswa tidak ragu dan malu serta mau mengembangkan potensi-potensi yang terdapat dalam dirinya terutama potensi yang berhubungan dengan kreativitas. Pemetaan pikiran yang terdapat dalam pembelajaran kuantum adalah salah satu produk kreatif bentuk sederhana yang dapat dikembangkan. Dengan teknik mencatat pemetaan pikiran diduga kreatifitas(sikap kreatif) siswa akan meningkat.



Penutup

Metode pembelajaran adalah suatu cara atau jalan yang harus dilalui dalam proses belajar, pembelajaran memiliki dua unsur penting yakni siswa dan guru. Bagi siswa metode pembelajaran sangat penting dalam menentukan prestasi dan pengembangan potensi pribadi. Guru memiliki peranan penting dalam menerapkan metode pembelajaran di kelas untuk mencapai tujuan belajar yang diinginkan. Quantum learning sebagai salah satu metode belajar dapat memadukan antara berbagai sugesti positif dan interaksinya dengan lingkungan yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar seseorang. Lingkungan belajar yang menyenangkan dapat menimbulkan motivasi pada diri seseorang sehingga secara langsung dapat mempengaruhi proses belajar metode Quantum Learning dengan teknik peta pikiran (mind mapping) memiliki manfaat yang sangat baik untuk meningkatkan potensi akademis (prestasi belajar) maupun potensi kreatif yang terdapat dalam diri siswa.




[..Baca Selengkapnya..]

Kamis, 19 Juni 2008

tips belajar

TIPS BELAJAR

Tuntutan masa kini mendorong kita untuk terus belajar, tidak peduli usia kita, jika kita ingin sukses. Belajar bukan lagi bagi mereka yang berumur 5 sampai 20 tahun, bukan juga selalu berada di dalam lembaga pendidikan dan kursus-kursus. Walau kita telah menghabiskan ribuan waktu belajar, kita hanya tahu sedikit tentang belajar efektif. Tidak ada jalan pintas untuk cepat mengerti namun partisipasi aktif dalam proses belajar mengajar dapat membuat belajar menjadi efektif. Memperhatikan pelajaran di kelas, membaca, berhenti menunda-nuda, belajar di tempat yang tenang, tidak bermain-main saat pelajaran, dan aktif bertanya adalah hal-hal yang biasanya kita yakin bisa memberikan hasil terbaik.
Menurut Dr. Nate Kornell dari UCLA, ada tiga cara belajar paling efektif yang ditemukan dari riset psikologi:
1. Bagi-bagi subjek-subjekmu dan pelajari bergantian.Walau mungkin awalnya terasa tidak efektif, membagi-bagi subjek yang ada dan mempelajari sebagian dari bagian yang berbeda telah terbukti mampu memberikan hasil efektif. Misalnya pada 30 menit pertama belajar berhitung, lalu 30 menit berikutnya sejarah, setelah itu 30 menit untuk bahasa.
2. Tes dirimu sendiri.Coba tanyakan pada dirimu sendiri tentang materi-materi yang telah kamu pelajari. Mengetes diri sendiri memiliki dua keuntungan. Pertama, karena prosesnya yang mengambil ingatan dari pikiran, hal ini dapat meningkatkan kemampuan mengingat. Kedua, mengetes diri sendiri dapat mengetes apakah cara belajar kamu sudah efektif atau tidak. Kamu dapat mengidentifikasi dan memperbaiki kelemahan kamu sebelum terlambat. Tapi ada satu syarat: mengetes diri sendiri tidak akan berhasil kalau kamu lakukan ketika kamu baru saja selesai belajar. Ini tidak mengasah daya ingatmu melainkan membuatmu sombong.
3. Ambil kesimpulan dan integrasikan.Setelah keluar dari kelas atau membaca satu bab buku, ambil kesimpulan-kesimpulan penting, dan pikirkan bagaimana kesimpulan-kesimpulan tersebut berhubungan dengan keseluruhan topik dan pengalaman pribadi. Proses ini, dikenal sebagai integrasi pengetahuan, sangat bermanfaat untuk memperkuat daya ingat dan mengimplementasikan pengetahuan pada kejadian nyata. Untuk lebih mengefektifkan teknik ini, kamu bisa memberitahukan atau mengajarkan orang lain tentang apa yang telah kamu pelajari. Menerangkan kesimpulan-kesimpulanmu memerlukan integrasi dan kemampuan meringkas, dan ini adalah cara terbaik untuk mengecek kelemahan-kelemahan dalam pengetahuan yang kamu miliki.
Tiga langkah diatas mungkin terasa berat pada awalnya, tapi memiliki keuntungan jangka panjang yang sangat panjang. Pada waktunya, otak yang dilatih dengan cara ini tidak memiliki kesulitan dalam mengingat dan mengimplementasikan.

[..Baca Selengkapnya..]

Rabu, 18 Juni 2008

Keluarga=Pendidikan "Plus"


Keluarga = Pendidikan "Plus"


Pendidikan anak dewasa ini semakin menjadi perhatian utama dan prioritas para orang tua. Ada beberapa penyebab : Kesadaran akan pentingnya “bersekolah” dan kesadaran akan arti “sekolah”, namun tidak jarang ada pula penyebab lain, yakni ingin menyerahkan beban pendidikan / tugas pendidikan ke sekolah (dan para pendidik) – entah karena memahami adanya “value added” di sekolah, atau karena frustrasi, sulit mengarahkan anaknya sendiri di rumah (jadi biar tidak pusing-pusing, anaknya di sekolahkan saja)…Apapun alasan kita para orang tua dalam menyekolahkan anak, seyogyanya kita memahami prinsip bahwa :
Keluarga adalah tempat pertama dan utama pendidikan seorang anak. Keluarga = sekolah plus. Selama ini, kita mencari sekolah plus, untuk bisa mengatasi “kekurangan” yang ada di rumah atau di dalam pola asuh kita terhadap anak. Namun, kita sering lupa, setelah kita memasukkan anak ke sekolah “plus”, kita tidak mempelajari dan mengambil “nilai plus-nya” untuk diterapkan di rumah. Akibatnya, di rumah tetap minus dan “plus”-nya tertinggal di sekolah.
Konsekuensi
Ketika musim sekolah telah berjalan, timbul beberapa kesulitan dan masalah – yang tanpa sadar merupakan dampak dari tertinggalnya nilai “plus” di sekolah.
1. Problem belajar
2. Problem motivasi
3. Problem perilaku
4. Problem emosional
5. Problem sosial
6. Problem nilai

1. Problem belajar
Pola Belajar di sekolah
Pola belajar dengan proses sistematik, termasuk pemberian instruksi yang sistematik, jelas, tegas, sederhana, kongkrit, sequencial dan sesuai dengan kemampuan / kesiapan anak. Pola ini mempermudah penyerapan materi pelajaran dan instruksi, apalagi jika diberikan secara learning by doing and playing.
Pola Belajar di rumah
Pola sistematik di sekolah, seringkali “bubar” ketika di rumah karena toleransi orang tua/pengasuh yang berlebihan terhadap anak (tidak tahan terhadap rengekan dan tantrum anak).
Pola short-cut, sering dilakukan orang tua, dengan memangkas proses yang seharusnya dilalui anak, karena orang tua sendiri yang tidak tahan menghadapi proses tersebut, yang di”bumbui” oleh rengekan anak.
Suasana belajar di Sekolah
Suasana belajar yang ceria, non-judgmental, non-ambisius (tidak dipengaruhi ambisi pribadi sang pengajar), namun ada nuansa kompetisi (antar teman) akan membuat anak “betah” dan “asik” menjalani proses belajar-nya di sekolah
Suasana belajar di Rumah
Suasana di rumah yang “fun”, santai, longgar, no target, no clear “rules – regulations & boundaries/batasan”, apalagi tidak ada competitor, tidak menggiring dan membentuk suasana belajar. Yang muncul, adalah suasana “murni bermain” dan bersantai, melakukan kegiatan yang tak terarah dan tak bermakna
Stimulus belajar di Sekolah
Stimulus diberikan secara sistematik, terencana, terpola (tidak random dan simultan – all in one), memperkaya wawasan, skill / ketrampilan anak. Pemberian stimulus yang minimal (tidak sesuai dengan kapasitas anak) menyebabkan kebosanan dan keresahan. Stimulus yang berlebihan, membuat anak resah dan inferior karena merasa “sulit” menghadapi stimulus tersebut.
Stimulus belajar di Rumah
Di rumah, anak mudah sekali kebanjiran ‘stimulus” entah dalam bentuk permainan (meskipun sifatnya edukatif) maupun pelajaran. Artinya, anak diberikan banyak mainan atau pun pelajaran untuk dikerjakan dalam waktu yang sama. Pola ini, membuat anak sulit menyusun skala prioritas konsentrasi, pengolahan & penyaluran energi. Akhirnya, anak mudah beralih perhatian saat masa belajarnya di satu hal belum selesai (saat ia belum mendapatkan kesimpulan dan pemahaman atas pola yang ditemukan dari permainan / kegiatannya itu).
Pemberian pelajaran yang berlebihan di rumah tanpa mempertimbangkan kemampuan anak (missal karena ambisi orang tua), dapat mengundang penolakan anak atau rasa rendah diri (merasa tak mampu)


2. Problem motivasi
Problem Motivasi Belajar di sekolah

Pola action-consequence dan sequence yang jelas (sesudah pelajaran ini, akan dilanjutkan dengan kegiatan “mengasikkan” berikutnya – jadi kalau sampai tidak selesai, nanti tidak bisa ikut belajar yang selanjutnya), membuat anak belajar untuk memahami apa akibatnya kalau dia tidak mengerjakan seperti seharusnya.
Problem Motivasi Belajar di rumah
Pola action – consequence seringkali tidak konsisten yang bersumber dari ketidakmampuan orang tua bersikap konsisten pada anak dan toleransi yang terlalu longgar dalam menerapkan pola action-consequences maupun sequences serta kemandirian dalam bertindak (tidak tergantung orang lain – autonomous & independent).
Akibatnya, anak jadi mudah frustrasi, kurang punya daya juang (gampang menyerah), malas, mengikuti impuls-nya semata.
Rasa ingin tahu, kebutuhan eksplorasi dan keinginan anak untuk mencoba mudah “kalah” oleh keengganan, rasa malas atau pun tuntutan untuk dibantu orang tua.


3. Problem perilaku
Problem Perilaku Belajar di sekolah
Pola belajar yang komprehensif, kombinasi dari kegiatan fisik (heavy physical activity) dan non fisik (contoh : thinking, reading, scrabbling, drawing, singing, interacting) membuat energy anak (pada umumnya) terolah dan tersalur secara produktif & efektif dalam rentang waktu yang relative proporsional
Problem Perilaku Belajar di sekolah
Energi anak yang berlebihan, kurang tersalur secara terarah. Banyak waktu, tapi untuk bermain yang non-produktif; banyak mainan, namun kurang diberi makna / arahan, sehingga mainan yang ada pun tidak bermanfaat secara optimal untuk perkembangan anak, dan hanya sekedar “for fun”. Akibatnya, anak mudah bosan, tidak menghargai mainan, tidak kreatif (pemain pasif dan penerima “mainan” pasif), tidak inovatif. Energi yang tidak tersalur, berputar di dalam, menimbulkan keresahan yang seringkali tidak dapat dikendalikan oleh sang anak, hingga terkesan “hyperaktif”, agresif, sulit konsentrasi, tidak bisa diam, dsb


4. Problem emosional
Problem emosional Belajar di sekolah
Beragamnya aktivitas dan teman-teman bermain, membuat anak belajar mengelola emosi-nya sendiri berikut kebutuhan dan keinginan mereka (untuk diperhatikan, dinomersatukan, dilayani, dibantu, dsb – yang bersifat egosentris / terpusat pada diri sendiri). Kompleksitas situasi di sekolah, menghadapkan anak pada situasi yang sering tak dapat dikendalikannya. Di sekolah, mau tidak mau anak belajar mengelola frustrasi, kesedihan, perasaan marah, ketakutannya, iri hati, kebosanannya, atau pun kekesalannya terhadap sesuatu. Kompleksitas situasi di sekolah, pada dasarnya membantu proses perkembangan kematangan emosi anak.
Problem emosional Belajar di rumah
Jika orang tua heran, melihat anaknya disekolah yang lebih “dewasa” tapi ketika di rumah jadi “manja”, tukang merengek, mudah menangis dan tantrum, bisa diteliti kembali, bagaimana pola-pola di rumah. Sikap orang tua yang sangat toleran dan tidak konsisten, tidak ber-prinsip (tidak didasari prinsip logika rasional dalam menerapkan aturan) dalam menyikapi tantrum anak atau pun emosi anak, pada akhirnya menyulitkan proses “pencerdasan emosional” anak.
Orang tua, seringkali salah memfokuskan perhatian, bukan pada tujuan akhir dari kebijakan, kebiasaan, aktivitas, pembelajaran –nya, namun lebih pada tantrum dan reaksi emosi anak. Contoh : mudah luluh / kesal / marah mendengar anak merengek tidak mau makan sendiri sehingga supaya tidak merengek dan mau makan banyak, akhirnya “disuapi” lagi – akhirnya, tujuan pendidikan tidak tercapai, dan anak tidak se-mandiri ketika di sekolah

5. Problem sosial
Problem Sosial Belajar di sekolah
Banyaknya teman di sekolah, membuat anak belajar perilaku sosial, seperti halnya berbagi (sharing), toleransi, bergiliran, empati, menolong teman, dsb. Banyaknya jumlah anak di dalam kelas, membuat sang anak belajar menghadapi kenyataan bahwa bukan dia satu-satunya anak yang membutuhkan bantuan ibu guru atau diperhatikan oleh pak guru. Pola ini, secara positif dapat menumbuhkan kemandirian anak (tidak tergantung dari orang lain, tapi mampu mengusahakannya sendiri).
Anak juga belajar, aksi-reaksi, dari sikap dan tindakannya sendiri. Lama kelamaan, anak akan berpikir sebelum bertindak, sehingga dia tidak lagi terlalu impulsif dan “mau menang sendiri” sebab ada akibat sosial yang akan dia alami.
Problem Sosial Belajar di sekolah
Ketika di rumah, anak cenderung menjadi “prince – princess”, di mana semua kebutuhannya dilayani dan dia menjadi pusat perhatian. Akhirnya, jika di sekolah anak terlihat mandiri, tapi di rumah jadi anak super manja. Ketidaksinkronan dan ketidakkonsistenan antara pola di rumah dengan di sekolah, akan menghambat berkembangnya kesadaran internal akan tanggung jawab sosial (social responsibility).
6. Problem nilai
Problem Nilai Belajar di sekolah
Di sekolah, anak mendapatkan pelajaran nilai secara langsung dari pengalaman mereka sehari-hari, misalnya : kejujuran, toleransi, kedisiplinan, kemandirian, ketekunan, ketaatan, kepatuhan, kerja sama, “kerja keras” dan “usaha”, tanggung jawab, menghargai teman, mengucapkan terima kasih, dsb. Lingkungan sekolah yang sangat natural (memunculkan instant reaction), memudahkan anak untuk belajar nilai secara konsisten di lingkungan sekolah.
Problem Nilai Belajar di rumah
Para orang tua maupun pengasuh, seringkali sulit menanamkan nilai-nilai seperti halnya di sekolah, karena banyaknya benturan nilai. Misalnya : jika di sekolah anak harus bisa makan sendiri, di rumah disuapi. Jika di sekolah membereskan mainan (tanggung jawab) sendiri, di rumah dibereskan mbak. Jika di sekolah disiplin dalam hal waktu, di rumah boleh nonton sepuasnya.. Jika disekolah mengerjakan sesuatu hingga selesai, kalau di rumah bisa suka-suka sendiri. Jika di sekolah harus mengambil mainan sendiri, kalau di rumah, tinggal teriak dan menjerit maka akan ada yang mengambilkan. Akhirnya hal ini menghambat pembentukan nilai dan kesadaran moral pada anak. Anak akan “suka-suka” dan terbiasa bersikap “short cut”, ambil jalan pintas – yang enak, yang mudah, tidak mau melalui proses-nya, tidak mau menerima konsekuensinya. Pola ini, memupuk mentalitas anak yang lembek, mudah frustrasi, manipulatif dan narsisistik (merasa diri hebat dan layak untuk memperoleh apa yang dia inginkan). Selain itu, anak jadi taat, patuh, “baik” karena takut dimarahi – bukan karena kesadaran (yang akan terbangun melalui belajar nilai dari action-consequnces secara logis)

Apa yang harus dilakukan?
Orang tua perlu mencari benang merah dan sinkronisasi beberapa hal yang utama, yang membantu anak mengembangkan hal-hal dasar dalam kepribadiannya. Sebagaimana orang tua memilih sekolah yang sesuai dengan orientasi nilai dan harapan mereka, begitu juga orang tua seyogyanya mengadaptasikan pola-pola pendidikan yang konstruktif dan positif dari sekolah. Paling tidak, di antara keduanya, saling mengisi – dan bukan saling meniadakan. Untuk itu lah, komunikasi orang tua dengan anak, dan komunikasi antara orang tua dengan pihak sekolah, menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan. Kita tidak bisa bersikap “tahu beres” baik terhadap anak maupunn pihak sekolah. Karena, ketika terjadi ketidakberesan, kita tidak bisa semata-mata menunjuk pihak sekolah sebagai “biang keladi” dari persoalan yang dihadapi anak. Bisa saja persoalan dimulai / terjadi di sekolah, namun kita harus melihatnya secara bijaksana, karena reaksi seorang anak terhadap sesuatu, sangat dipengaruhi oleh proses belajar yang dilaluinya dan pola asuh yang paling mendominasi bentukan sikap dan kepribadiannya.
Jadi, keluarga, adalah tempat utama pendidikan dan pengembangan seorang anak. Sekolah, pada dasarnya mengarahkan, memberikan bimbingan dan kerangka – bagi anak untuk belajar, bertumbuh dan berkembang. Sementara keluarga, justru menjadi center of education yang utama, pertama dan mendasar.

[..Baca Selengkapnya..]

Kehidupan Sosial Anak


Perbedaan fase perkembangan status sosial di dunia anak-anak dalam persahabatan dan mendapatkan kawan bermain di lingkungan sekolah dan di luar lingkungan sekolah, berbeda dengan pengertian persahabatan yang terjadi pada orang dewasa, untuk orang dewasa persahabatan adalah suatu ikatan relasi dengan orang lain, di mana kepercayaan, pengertian, pengorbanan dan saling membantu satu sama lainnya akan terjalin dalam periode yang lama, sedangkan di dunia anak-anak tidak seperti halnya yang terjadi pada orang dewasa, di dunia anak-anak persahabatan terjalin tidak untuk waktu yang lama, terkadang bila terjadi masalah yang kecil saja, jalinan persahabatan tersebut akan terputus.
Ada dua metode penelitian untuk mengetahui arti persahabatan dan kawan bermain di dalam dunia anak-anak :
Dengan cara kita mengajukan beberapa pertanyaan, seperti ;
  • Siapa teman dekatmu ?
  • kenapa dia ?
  • apa yang kamu senangi dari dia ?

Dengan cara kita bercerita tentang persahabatan, kemudian kedua orang sahabat tersebut bertengkar karena mereka tidak dapat menyelesaikan masalahnya dengan baik.
Dari kedua metode tersebut, metode yang nomor dua kita akan banyak mendapatkan informasi, kemudian kita ajukan pertanyaan kepada anak ;
  • Harus bagaimanakah situasi itu diselesaikan ?

Dari banyak informasi yang diberikan anak tersebut, kita akan mendapatkan kesimpulan yang kita bagi dalam beberapa fase, seperti ;
(Teman untuk bermain)
Teman bermain untuk usia anak antara 5 sampai 7 tahun.
Bagi mereka, teman adalah seseorang yang mempunyai mainan yang menarik yang tempat tinggalnya dekat di sekitar mereka, dan mereka mempunyai ketertarikkan yang sama.
Kepribadian dari teman tersebut tidak menjadi masalah, yang terpenting bagi mereka adalah kegiatan dan mainan apa yang mereka miliki, persahabatan mereka akan terputus apabila salah seorang dari anak tersebut tidak mau bermain lagi dengan anak lainnya karena kejenuhan dan kebosanan, persahabatan mereka akan secepat mungkin terputus dan terbina kembali begitu saja. Contoh percakapan yang sering kita temui pada anak-anak usia 5 sampai 7 tahun, antara lain mengenai berbagi makanan, misalnya ;
"Kalau kamu memberi saya coklat, kamu temanku lagi”
Dalam usia ini mereka dengan gampangnya mengatakan tentang berteman, biasanya percakapan mereka dimulai dengan perkataan “namamu siapa ? dan namaku......” dan mereka bisa begitu saja berteman setelah saling mengetahui nama masing-masing.
Fase Kedua (Teman untuk bersama))
Teman bermain dan membangun kepercayaan, untuk usia anak antara 8 sampai 10 tahun. Dalam usia mereka ini, pengertian teman sedikit lebih luas dari pada fase pertama, karena arti teman bagi mereka sudah melangkah ke perasaan saling percaya, saling membutuhkan dan saling mengunjungi.
Dalam fase ini seorang anak untuk mendapatkan teman tidak segampang anak pada fase pertama, karena mereka harus ada kemauan berteman dari kedua belah pihak.
Mereka tidak akan mau berteman lagi setelah di antara mereka timbul masalah, seperti ;
  • Salah seorang di antara mereka ada yang melanggar janji ;
  • Salah seorang di antara mereka ada yang terkena gosip ;
  • Salah seorang di antara mereka tidak mau membantu, disaat temannya tersebut membutuhkan pertolongan.

Percakapan yang sering kita temui pada fase kedua ini, misalnya ;
“Kenapa kamu pilih dia sebagai temanmu ?”
Dalam fase ini, seorang anak tidak mudah menjalin persahabatan, biasanya persahabatan tersebut terjadi setelah beberapa saat mereka saling mengenal baik baru mereka akan menjalinnya, kadang persahabatan mereka bisa sampai usia dewasa, kadang juga terputus tergantung factor apa yang terjadi selama persahabatan mereka.
Fase Ketiga (Persahabatan yang penuh dengan saling pengertian)

Terjadi pada anak usia 11 sampai 15 tahun, bagi mereka arti teman tidak hanya sekedar untuk bermain saja, di sini seorang teman harus juga bisa berfungsi sebagai tempat berbagi pikiran, perasaan dan pengertian.
Pada fase ini persahabatan memasuki stadium yang sangat pribadi, karena pada umumnya mereka sedang mengalami masa puber dengan permasalahan psikologis seperti ; depresi, rasa takut, problem di rumah, atau problem keuangan yang terjadi pada mereka, biasanya mereka lebih tahu permasalahan psikologis tersebut dibandingkan dengan orang tua mereka sendiri.
Persahabatan pada fase ini bisa berubah seiring dengan berjalannya usia mereka, dari sekedar teman bermain, kemudian berkembang menjadi teman berbagi kepercayaan dan teman berbagi emosi. Persahabatan tersebut biasanya terputus karena salah seorang dari mereka pindah rumah atau melanjutkan sekolah di kota lain.
Percakapan di antara mereka yang sering kita dengar pada fase ini, misalnya ;
“Kita butuh teman yang baik, karena kita bisa berbagi ceritera di mana orang lain tidak perlu tahu, teman yang baik akan memberi nasihat atau jalan keluar yang terbaik”
Pentingnya Persahabatan Untuk Perkembangan Sosial Anak-Anak ( Populer atau Tidak Populer dan Apa Akibatnya)
Di dalam lingkungan sekolah dasar, biasanya ada anak yang populer dan tidak populer, baik anak tersebut lebih menonjol karena kepintaranya atau pun karena hal yang lainnya.
Mereka mendapat perhatian lebih, seperti selalu diundang dan hadir di pesta ulang tahun temannya sedangkan yang tidak populer tidak pernah diundang.
Untuk mengetahui lebih jauh tentang hubungan sosial anak populer dan tidak populer di dalam kelas, seorang guru atau kita, dapat mengajukan beberapa pertanyaan kepada mereka,seperti ;
  • Dengan siapa kamu mau pergi tamasya ?
  • Dengan siapa kamu mau duduk ?

Ternyata anak populer lebih banyak disebut dan anak tidak populer jarang atau sama sekali tidak disebut.
Untuk lebih mengetahui anak populer dan tidak populer, pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dikembangkan lagi dengan pertanyaan-pertanyaan negatif dan pertanyaan-pertanyaan positif.
Dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, kita bisa lebih cepat mengetahui mana anak populer dan mana anak yang tidak populer dan juga kita bisa lebih cepat mengetahui serta membantu mengatasi problem si anak pada stadium yang masih belum terlalu jauh.
Dengan cara tersebut, pada akhirnya kita bisa membedakan perkembangan anak-anak secara berurutan, seperti ;
Anak-anak yang menyandang bintang sosiometris
Bintang sosiometris, artinya mereka paling banyak disebut sisi positifnya dari pada sisi negatifnya, biasanya mereka disenangi dan diakui oleh teman-temannya sedikit dari mereka yang menyandang bintang sosiometris ini merasa terasingkan.
Anak-anak yang biasa
Biasanya mereka tidak begitu populer dibandingkan dengan bintang sosiometris, tetapi mereka lebih banyak disebut sisi positifnya dan sedikit disebut sisi negatifnya.
Anak-anak yang terisolir
Biasanya mereka tidak disebut sisi positifnya dan juga tidak disebut sisi negatifnya, sepertinya anak terisolir tersebut tidak terlihat oleh teman-temannya.
Anak-anak yang terasingkan
Biasanya mereka oleh anak-anak yang lain diasingkan dan tidak diakui sebagai teman, mereka biasanya sedikit sekali disebut sisi positifnya dan lebih banyak disebut sisi negatifnya.
Dari urutan-urutan di atas, kita sebagai orang tua harus cepat tanggap dan tidak ragu untuk bertanya kepada guru di sekolah, bagaimana perkembangan psikologi anak di lingkungan sekolah, hal tersebut dilakukan untuk membandingkan perkembangan psikologi anak di lingkungan rumah dan di lingkungan sekolah, supaya kita dapat secepatnya menelusuri dan mengetahui apakah anak kita mempunyai masalah dalam dirinya yang tidak berani diungkapkan kepada kita sebagai orang tuanya dan kita bisa dengan cepat menangani serta membantu memecahkan masalah si anak tersebut, sebelum masalah anak tersebut terlanjur merubah sifat dan karekter si anak.
Faktor-faktor penting yang mempengaruhi dalam status sosial anak
Cara orang tua mendidik dan membina anak
Orang tua yang mendidik anak dengan cara bertahap dalam menjelaskan sesuatu hal, dan mendidik anak dengan penuh kasih sayang, biasanya anak-anak mereka memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan mereka akan mudah dalam mengembangkan hubungan sosialnya. Lain halnya dengan anak-anak yang tidak mendapatkan kasih sayang secara penuh dan mereka dididik oleh orang tuanya dengan cara kasar serta mendapatkan peristiwa yang membuat anak tersebut trauma, maka kita bisa dengan jelas melihat perbedaan yang mencolok, biasanya anak tersebut sulit dikendalikan dan memiliki masalah, mereka tidak akan mudah membina hubungan sosial dan sulit membina persahabatan dengan anak lainnya.
Urutan kelahiran
Urutan kelahiran, mempengaruhi juga dalam status sosial anak, karena biasanya anak yang paling muda lebih populer dan terbiasa dengan negoisasi dari pada saudara-saudaranya.
Kecakapan dan keterampilan mengambil peran
Biasanya anak-anak populer memiliki kecakapan dan keterampilan dalam mengambil apa pun posisi peran dan posisi peran tersebut dapat berkembang menjadi lebih baik. Anak-anak populer biasanya memiliki intellegensi/kecerdasan yang baik. Dengan memiliki ciri-ciri tersebut, anak-anak populer lebih mudah menempatkan dirinya atau beradaptasi dilingkungan yang asing.
Nama
Ternyata di lingkungan anak-anak, nama dapat membawa pengaruh. Nama yang dapat diasosiasikan dengan sesuatu hal, dapat membawa pengaruh negatif terhadap perkembangan sosial psikologi anak. karena anak-anak masih sangat kongkrit dalam menyatakan sesuatu hal, akibatnya anak tersebut merasa rendah diri dan tersudut apabila anak-anak yang lain mencemoohkan karena namanya dapat diasosiasikan dengan sesuatu hal.
Daya tarik
Anak-anak yang memiliki daya tarik tersendiri, biasanya selalu populer daripada anak yang kurang memiliki daya tarik. Anak-anak yang berumur 3 tahun, sudah bisa membedakan mana anak-anak yang menarik dan mana anak-anak yang kurang menarik, reaksi ketertarikkannya hampir sama dengan orang dewasa. Pada anak usia 3 tahun, anak yang menarik dan anak tidak menarik tidak begitu kelihatan mencolok, tetapi pada anak usia 5 tahun, hal tersebut dapat terlihat sangat jelas, anak usia 5 tahun yang tidak menarik biasanya lebih agresif dan sering tidak jujur dalam bermain, sedangkan pada anak usia 5 tahun yang memiliki daya tarik, biasanya mereka sering diberi masukkan-masukkan yang positif dari sekitarnya sehingga tumbuh rasa percaya diri yang lebih tinggi, sabaliknya pada anak usia 5 tahun yang tidak menarik rasa percaya dirinya berkurang karena terpengaruh masukkan-masukkan yang negatif dari lingkungannya.
Perilaku
Tidak semua anak yang menarik menjadi populer karena masih banyak faktor lainnya yang bisa mempengaruhi katagori populer. Perilaku yang membuat anak populer, antara lain ; ramah tamah, mempunyai rasa simpati, tidak agresif, bisa berkerja sama, suka menolong, suka memberikan masukkan atau komentar yang positif, dan lain-lain.
Secara umum faktor-faktor di atas terdapat pada anak-anak yang populer, dan factor-faktor tersebut dapat menentukan status sosial anak, tetapi tidak selamanya anak populer pada nantinya dapat menentukan status sosial, sebagian anak-anak yang tumbuh dari lingkungan yang selalu terjaga pendidikannya, intellegensinya, cakap dan terampil, mempunyai nama yang baik serta menarik tetapi tidak popular, sebagian lagi ada juga anak-anak yang tumbuh dari lingkungan yang bermasalah, kurang perhatian dari orang tua, mempunyai nama yang kurang bagus, dan tidak memiliki daya tarik, tetapi bisa juga menjadi populer. Lalu bagaimana dengan anak-anak yang kurang dihargai seperti ; Anak-anak yang terisolir dan Anak-anak yang terasingkan. Kelompok anak-anak tersebut memiliki nilai yang rendah dari anak-anak seumurnya, akan tetapi anak-anak yang terisolir lebih mudah diakui dari pada anak-anak yang terasingkan, namun lama kelamaan anak-anak yang terasingkan akan diakui juga. Anak-anak yang terasingkan memiliki resiko adaptasi lebih besar dalam usia menjelang dewasa, mereka menjadi terasingkan karena ada penyimpangan dari salah satu factor status sosial anak. Jika anak-anak ini lemah dalam menghadapi ejekkan-ejekkan atau godaan dari anak-anak lainnya, maka hal tersebut dapat membentuk perilaku dan proses belajarnya akan terganggu.
Beberapa problem pada anak-anak yang terasingkan, antara lain ;
  • secara terbuka mereka diasingkan
  • sering terlibat dalam hal-hal kejadian interaksi yang negatif
  • mempunyai masalah perilaku
  • sering memperlihatkan perilaku agresif
  • mempunyai status negatif yang stabil
  • sering bermasalah di sekolah

Secara umum anak-anak yang terasingkan, berreaksi dengan dua cara :
      Menarik diri
      Biasanya mereka menarik diri dari kontak dengan yang lain, mereka sebetulnya ingin main dengan anak-anak lainnya, tetapi mereka diacuhkan dan diabaikan keberadaannya, malahan mereka mengejeknya seperti dengan sebutan “professor” karena anak tersebut memakai kacamata, maka dari itu mereka selalu menhindar dari anak-anak lainnya, di rumah biasanya mereka juga pendiam dan selama mungkin tinggal di kamarnya dengan membaca komik atau mendengarkan musik, kepada orang tuanya mereka beralasan tidak suka main di luar.

      Perilaku anti sosial
      Biasanya mereka sulit untuk diatur, padahal anak-anak lainnya tidak suka dengan perilakunya, misalnya ; Pada saat anak-anak yang lain bermain bola, kemudian datang anak yang terasingkan, tetapi tidak untuk ikut bermain dengan anak-anak lainnya, anak tersebut datang hanya sekedar untuk mengganggu saja dengan mengambil bolanya, dan apabila ikut bermain bola pun anak itu akan tampil dengan kasar sehingga membuat anak-anak lainnya berhenti bermain, anak yang terasing itu akan marah-marah hingga akhirnya anak-anak yang lain terpaksa mengalah dan bermain bola kembali dengan aturan-aturan yang dikehendaki oleh anak yang terasing tadi.

[..Baca Selengkapnya..]

Minggu, 15 Juni 2008

Tidak Bodoh,tapi tertinggal

TIDAK BODOH,TAPI TINGGAL KELAS

Begitu tahu angka IQ anak di atas rata-rata, biasanya
langsung diambil kesimpulan, ia pasti cerdas di kelas. Padahal menurut survai
Departemen P dan K, sebagian besar anak SD yang tinggal kelas IQ-nya normal,
bahkan di atas rata-rata. Ini pasti ada sebabnya.


Seorang ibu muda bergegas keluar dengan mata berkaca-kaca dari ruang kelas 3 sebuah sekolah dasar, tempat anaknya bersekolah, gara-gara anak sulungnya ini nunggak, tidak naik kelas. Sebetulnya bisa dimaklumi, sebab nilai rapornya banyak yang jeblok, bahkan nyaris "kebakaran" karena banyak merahnya.
Tapi si ibu tidak bisa maklum karena ia yakin anaknya bukan tergolong bodoh, mengingat angka IQ-nya di atas rata-rata. "Kenapa hal itu bisa terjadi?" si ibu terus bertanya-tanya.
Ibu dan anaknya itu rupanya tidak "menderita" sendirian. Dari laporan Departemen P dan K dalam Kongres PGRI XVII beberapa waktu lalu dinyatakan, angka mengulang di kelas-kelas awal SD memang cukup tinggi; 16,7% di kelas 1, 12,4% di kelas 2, dan 10,6 % di kelas 3. Sedangkan kelas 4 sampai dengan kelas 6 persentasenya menurun; 8,5% di kelas 4, 6,7 % di kelas 5 dan 1,5 % di kelas 6. Sebagian besar anak yang tinggal kelas itu ternyata angka IQ-nya tidak di bawah rata-rata.
Potensi ibarat kendiAnak yang tinggal kelas sering dicap sebagai anak bodoh. Ini tentu anggapan serampangan sebab kenyataannya tidak selalu demikian. Mestilah dilihat kasus per kasus. Setidaknya ada dua segi yang bisa dikaji dengan saksama untuk mencari penyebabnya, yaitu faktor psikologis dan fisiologis anak.
Dari sudut psikologis dapat dilihat selain IQ juga kondisi keluarga dan lingkungan tempat tinggal, serta pergaulan dan lingkungan sekolah. Dari segi fisiologis perlu ditengok faktor kesehatan si anak; umumnya faktor gizi dan gangguan penglihatan maupun pendengaran sangat mengganggu prestasi sekolah anak.
Dalam psikologi pendidikan dikatakan, anak-anak yang nunggak alias tinggal kelas umumnya tergolong sebagai anak yang underachiever atau tidak terpenuhi kebutuhannya. Prof. Dr. Conny Semiawan, seorang pakar pendidikan, lebih jauh menjelaskan bahwa anak yang underachiever dalam kesehariannya kurang mendapat pengarahan sesuai dengan kebutuhannya. Misalnya saja, si anak senang sekali membaca tetapi di rumah tidak atau kurang disediakan sarana bacaan yang sesuai dengan usianya. Atau si anak gemar sekali musik, namun orang tua tidak memperbolehkannya ikut les musik karena takut mengganggu pelajaran sekolahnya.
Sebagai gambaran, Conny Semiawan mengibaratkan otak atau potensi seorang anak cerdas-berbakat bagaikan sebuah kendi besar. Kalau kendi itu tidak diisi penuh, si anak bisa membuat masalah. Anak yang berinteligensi jauh lebih tinggi dari rata-rata teman sekelasnya, akan merasa hampir setiap pelajaran membosankan karena daya tangkapnya juga lebih cepat dibandingkan dengan teman-temannya.
"Kalau guru sedang menerangkan sesuatu yang mungkin bagi murid lain belum dimengerti, anak ini sudah terlebih dahulu menangkapnya. Akibatnya, ia mudah bosan, malas, dan mempunyai lebih banyak waktu untuk mengganggu teman serta mengabaikan gurunya. Anak seperti ini menjadi nakal di kelas dan tidak disenangi oleh guru maupun teman-teman sekelasnya," jelas Conny Semiawan. Barangkali anak dengan kategori semacam ini akan menjadi lebih serius kalau diberi pelajaran yang lebih banyak menuntut pemikirannya, sehingga apa yang dilakukan dia rasakan mengasyikkan.
Jadi, angka IQ di atas rata-rata tidak menjamin keberhasilan prestasi sekolah anak yang bersangkutan kalau "kendi"-nya tidak diisi penuh.
Orang tua penuntutFaktor psikologis lain yang tidak kalah pentingnya adalah emosi. Sikap ambisius orang tua sering kali membuat anak terkungkung dalam situasi yang menekan, bahkan terkadang menyiksa. Ambisi itu misalnya berupa sikap menuntut si anak untuk berprestasi melebihi teman-temannya. Kalau si anak mendapat nilai 6 untuk suatu pelajaran, ia sudah dianggap gagal atau bodoh. Kemudian anak itu dimaki-maki atau tidak jarang dihukum dengan tindakan fisik, misalnya ditampar, dipukul, dikurung di kamar mandi (sampai si anak masuk angin, dan orang tuanya bingung sendiri), dll.
Situasi menekan lainnya yang juga sering dialami anak misalnya terus dijejali dengan berbagai les pelajaran sekolah. Atau, begitu pulang sekolah harus langsung belajar sampai petang hari sehingga ia tidak punya kesempatan untuk bermain. Kalau situasi yang menekan dan menyiksa ini berlangsung terus-menerus, anak yang bersangkutan bisa dihinggapi rasa takut pergi ke sekolah karena terus diliputi kekhwatiran. Sikap ambisius atau perfeksionis semacam ini sering kali justru bisa kontraproduktif, bahkan menghancurkan prestasi anak. Kalaupun prestasi sekolahnya baik, tidak jarang perkembangan psikologis maupun sosialnya terganggu.
Seperti pernah dikatakan Prof. Dr. Yaumil Agus Achir, seorang pakar psikologi, dalam sebuah seminar dengan Intisari, banyak anak rendah prestasi belajarnya justru karena ia takut gagal. Soalnya, alam perasaannya diliputi kekecewaan, keragu-raguan, tekanan, dan anggapan bahwa dirinya kurang mampu. Ketidakberhasilan ini, menurut Yaumil, akibat terganggunya dorongan untuk meraih sukses sehingga anak lebih memusatkan perhatian pada usaha menyelamatkan diri dari kegagalan. Di sini motif menghindari kegagalan lebih besar daripada motif untuk berprestasi, sehingga si anak enggan mencoba mendapat nilai cemerlang.
Anak akan bisa belajar dengan baik kalau ia diliputi perasaan senang dan aman serta bebas dari paksaan.
Lingkungan tak mendukungReproduksi ingatan atau berpikir, pembentukan pengertian dan kesimpulan, persepsi maupun asosiasi merupakan faktor psikis penting lainnya. Si anak mungkin saja mengetahui dan menyadari letak gangguan yang menyebabkan kemunduran prestasinya, tetapi ia sulit atau tidak berani mengungkapkannya. Di sinilah pentingnya peran guru dan orang tua untuk menganalisis penyebab menurunnya prestasi anak.
Faktor lingkungan, baik lingkungan keluarga ataupun sekolah juga ikut menentukan baik tidaknya prestasi anak. Keluarga yang kurang harmonis, orang tua sering cekcok, anak kurang mendapat perhatian, semua itu akan mempengaruhi jiwa anak. Pada keluarga yang berkecukupan, banyak anak terlalu dimanja dan santai sehingga ia kurang tertantang untuk maju. Sedikit saja menemukan kegagalan, ia sudah putus asa.
Kebutuhan anak bukan sekadar sandang dan pangan yang memadai, tetapi juga kasih sayang, perhatian, serta rasa aman yang cukup. Kemanjaan dan perlindungan yang berlebihan justru bisa mengembangkan sikap kurang mandiri pada diri anak.
Namun keadaan sosio-ekonomi yang kurang menunjang pun acap kali berpengaruh. Misalnya, tidak adanya tempat belajar tersendiri, penerangan yang tidak memadai, banyaknya anggota keluarga yang tinggal dalam rumah yang kecil sehingga keadaan yang hiruk pikuk tidak memungkinkan anak untuk dapat memusatkan konsentrasinya dengan baik.
Lingkungan kedua setelah rumah adalah sekolah. Sikap guru yang kejam dan galak, kurang berkomunikasi dengan murid, metode pengajaran yang kurang tepat dan terlalu cepat, materi pelajaran yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan latar belakang kehidupan anak, ditambah lagi dengan permusuhan dengan teman, semua itu bisa menghambat prestasi anak.
Keadaan masyarakat atau lingkungan tempat tinggal, misalnya anak "harus" hidup dalam lingkungan masyarakat yang kurang baik - seperti di daerah yang penuh dengan mereka yang sering mabuk-mabukan, tempat perjudian, pelacuran, dll. - juga akan berpengaruh bagi perkembangan jiwa dan prestasi anak.
Segi fisiologis yang menjadi perhatian utama adalah soal kesehatan anak. Dalam keadaan sakit, penglihatan atau pendengarannya terganggu, anak tentu tidak mudah berkonsentrasi ataupun menyerap pengetahuan yang diberikan. Anak yang mengeluh sering pusing atau setiap kali menonton televisi selalu mengerutkan matanya, perlu segera diperiksakan matanya ke dokter.
Pemberian makanan bergizi sesuai dengan perkembangan serta usia anak tentu juga sangat penting. Anak yang kurang gizi sehingga pertumbuhan otaknya ikut terganggu tentu prestasinya bisa terhambat.
BerikasihsayangUntuk mengurangi tingginya laju angka tinggal kelas di sekolah dasar, bisa ditempuh melalui berbagai upaya asalkan sebelumnya diketahui dengan jelas apa yang melandasi anak kurang bersemangat dalam belajar.
Dalam proses belajar-mengajar, tidak hanya berlangsung interaksi instruksional, tetapi juga interaksi pedagogis yang mengutamakan sentuhan-sentuhan emosional sehingga anak merasa senang belajar.
Pakar psikologi dari Swis, Jean Piaget membagi 4 stadium berpikir pada anak, yakni stadium sensorimotorik (0 - 18 bulan), stadium pra-operasional (1,5 - 7 tahun), stadium operasional kongkret (7 - 11 tahun) serta stadium operasional formal (11 tahun ke atas). Ia menyinggung pentingnya metode mengajar anak yang seimbang dengan usia serta perkembangan fisik serta mental anak.
Anak usia 7 - 10 tahun berada pada stadium operasional kongkret. Pada stadium ini anak sudah mampu melakukan aktivitas logis tertentu tetapi masih dalam situasi kongkret. Maksudnya, kalau anak dihadapkan pada suatu masalah secara verbal saja, tanpa bahan yang kongkret, ia akan sulit menuntaskan persoalannya secara baik. Bahan kongkret ini bisa berupa alat peraga. Mereka akan lebih mudah belajar menjumlahkan angka dengan menggunakan alat bantu sederhana seperti lidi atau batang korek api. Memberikan suatu pengertian bahwa sifat-sifat tertentu suatu objek akan tetap sama kendati ada transformasi pada objek tersebut (konservasi), bisa diperagakan misalnya dengan segenggam tanah liat yang diubah-ubah bentuknya menjadi segi tiga, segi empat, atau bulat. Bentuknya berubah tetapi beratnya tetap sama.
Namun metode ini harus didukung pula oleh berbagai faktor penunjang seperti perhatian serta dukungan orang tua, keadaan lingkungan serta kesehatan yang baik dan gizi anak yang cukup. Langkah-langkah yang perlu untuk menjalankan siasat jangka panjang demi perkembangan prestasi anak, menurut Yaumil, antara lain ialah lebih sering mengamati anak, mendengarkan obrolannya, mau berdialog dengannya, mendampinginya membuat PR. Langkah ini ditempuh agar orang tua mendapat masukan cukup yang diperlukan untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Kalau sekali waktu anak gagal meraih prestasi, atau pahitnya sampai tidak naik kelas, hendaknya disikapi dengan empati, bukannya dihujani dengan serentetan makian atau hukuman yang merendahkan harga diri si anak. Untuk memperbaiki prestasinya, hendaknya ditelusuri penyebabnya. Kalau perlu, minta bantuan ahli atau guru kelasnya. Sebaliknya, berikan apresiasi (penghargaan misalnya pujian yang wajar, tidak selalu harus dalam bentuk materi) setiap kali anak menunjukkan prestasi. Anak butuh kasih sayang dan perhatian dari orang-orang yang terdekat dengannya, yaitu orang tua!

[..Baca Selengkapnya..]