Jumat, 30 Oktober 2015

Mencegah Sebelum Parah

Jangan remehkan yang tampaknya sepele. Bermula dari yang kecil, dapat berkembang menjadi besar dan menakutkan. Bermula dari permainan game elektronik yang ada di HP, jika dibiarkan, dapat menjadi kecanduan game online beserta segala dampak buruknya. Ada dampak terkait dengan jenis game yang dimainkan, ada yang terkait dengan kegiatan bermain game itu sendiri. Berawal dari game online, seseorang dapat menjadi obsesif, agresif, tertantang berjudi, atau penyakit mental lainnya.
Kecanduan sendiri bertingkat-tingkat, tetapi semuanya membawa madharat dan menyingkirkan maslahat. Pada tingkat paling ringan, anak (bahkan orang dewasa) akan banyak membuang waktu yang bermanfaat untuk memburu keasyikan dan menuruti fantasi. Pada tingkat yang lebih berat, banyak cerita yang dapat saya sampaikan betapa anak yang sangat cemerlang kecerdasannya pun bisa berubah 180 derajat. Pun seorang suami yang penuh tanggung-jawab dapat kehilangan perhatiannya. Ia hanya sibuk menuruti keasyikannya bermain game online, lupa anak lupa istri. Dalam keadaan seperti itu, jangan tanya ibadah sunnah kepadanya.
Saya perlu sampaikan ini karena belakangan kasus kecanduan game online semakin merebak dimana-mana. Tak sedikit yang justru menimpa keluarga orang-orang yang memiliki perhatian besar terhadap agama. Saya juga merasa amat perlu menulis ini agar kita tidak merasa tenang hanya karena yang mulai asyik bermain game itu anak yang sudah kuliah atau remaja putri. Kecanduan game dapat menimpa siapa saja, laki-laki maupun perempuan. Dalam sebuah kasus, seorang mahasiswi terbengkalai skripsinya karena kecanduan game.
Saya tidak berbicara secara rinci tentang berbagai kondisi kecanduan. Mudah-mudahan lain waktu saya dapat membahasnya. Saya hanya ingin menunjukkan sebagian keadaan. Pada tingkat yang cukup parah, kecanduan game dapat memicu sikap ofensif, yakni kecenderungan untuk menyerang orang lain. Lebih-lebih jika ia merasa terganggu, baik karena dinasehati atau karena ia merasa tidak nyaman saja dengan kegiatan orang lain, meskipun itu saudara kandungnya. Anaknya yang sebelumnya manis, lembut perangainya dan suka membantu, dapat sontak berubah menjadi kasar dan ringan lidah untuk membentak, meski terhadap ibunya.
Tentu saja tidak akan muncul sikap ofensif kecuali apabila selfish (hanya sibuk dengan dirinya sendiri, mirip egoisme) menguat. Membentak dan menyerang secara lisan merupakan bentuk perilaku ofensif yang masih relatif ringan. Yang lebih parah adalah tindakan fisik. Dan karena yang bersangkutan sedang kehilangan kendali bersebab pikiran dan emosinya dikuasai game, maka perilaku ofensif ini dapat ditujukan kepada siapa saja, termasuk orangtua. Padahal dalam kondisi normal, dia tidakakan melakukannya.
Jika tidak segera memperoleh penanganan, anak dapat memiliki kecenderungan destruktif (merusak, menghancurkan). Terlebih jika jenis game online yang ia sukai termasuk jenis ini, semisal perang. Jika perilaku ofensif ditujukan kepada siapa pun yang membuatnya merasa terganggu, meskipun orang itu sebenarnya tidak mengganggu dia, maka kecenderungan destruktif ini mendorong dia untuk merusak atau bahkan menghancurkan (milik) orang lain. Boleh jadi ia menujukan tindakan tersebut kepada orang yang tidak disukainya, atau ia rasa mengganggu. Boleh jadi ia berlaku destruktif kepada siapa pun disebabkan ia sudah dikendalikan oleh waham akibat game. Inilah yang disebut obsesif.
Yang sangat mengkhawatirkan adalah tingkatan kecanduan game online yang menyebabkan seseorang terputus secara mental dari lingkungan sosialnya. Ia bersikap asosial. Ia tak lagi dapat bergaul secara wajar dengan orang lain, kehilangan kepekaan, tak peduli orang lain terganggu oleh keadaan dirinya dan bahkan ia lupa diri sendiri. Ada orang yang mampu berhari-hari bermain game non stop di Warnet (tidak mandi dan tentu saja tidak shalat), tapi masih dapat berinteraksi dengan orang lain secara relatif wajar. Tetapi anak –bahkan orang dewasa— yang sudah sampai pada tingkat asosial, ia dapat berminggu-minggu tidak mandi karena tenggelam dalam game online maupun fantasi saat ia sedang tidak bermain game. Anak yang sudah mengalami gejala asosial bersebab kecanduan game, saat bersama orang lain pun tidak dapat berinteraksi secara wajar. Sebagian bahkan nyaris tak dapat berinteraksi sama sekali.
ni tentu saja sangat tidak kita kehendaki. Alangkah sia-sia mendidik mereka bertahun-tahun jika harus hancur oleh game online dalam waktu beberapa bulan saja. Tak ada artinya kecerdasan mereka yang cemerlang, prestasi mereka yang menakjubkan dan berbagai keunggulan lainnya jika harus musnah oleh permainan yang kita beli sendiri alatnya. Karena itu, justru sebagai bentuk kasih-sayang terhadap anak, kita harus mencegah mereka dari berdekat-dekat dengan game online yang dapat menjadikan mereka kecanduan.
Dari beberapa kasus yang saya temui, kecanduan game online yang sampai pada tingkat sangat parah, umumnya terjadi karena orangtua tidak sigap mencegah saat anak sudah mulai menunjukkan gejala bermasalah, serta tidak ada ketegasan orangtua dalam melarang. Tak ada konsistensi sikap. Mungkin orangtua marah, meledak-ledak sesaat, tetapi sesudah itu aturannya dapat ditawar oleh anak. Sementara ketika anak sudah benar-benar kecanduan, rasa kasihan orangtua terhadap anak kadang salah sasaran. Seharusnya rasa kasihan terhadap masa depannya dapat membuat ibu mengambil sikap tegas tanpa kompromi, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Ia memberi kesempatan lagi, lagi dan lagi karena tidak tega melihat anaknya menderita.
Sesungguhnya, cukuplah orangtua dianggap tega dan kejam apabila ia membiasakan anaknya hidup mudah serta membiarkan anak menikmati kesenangan yang merusak masa depannya.
Dalam kasus anak sudah benar-benar kecanduan, terlebih sampai tingkat destruktif atau asosial, salah satu fase yang dilalui dalam proses terapi oleh profesional maupun penghentian kecanduan oleh pihak keluar memang sakauw. Anak terlihat sangat menderita karena ia dijauhkan dari apa yang membuatnya asyik. Anak tampak sangat linglung, frustrasi, teriak-teriak atau menangsi sendiri merupakan hal yang wajar. Obatnya adalah didampingi atau dibiarkan dulu dengan pengawasan. Bukan diberi kesempatan untuk bermain game lagi. 
Fase sakauw ini bisa sebentar bisa lama, tergantung tingkat kecanduannya dan kondisi lingkungan saat anak menjadi pemulihan. Setelah fase sakauw berlalu, anak akan berusaha untuk menerima kenyataan berupa hidup tanpa game. Tapi pada fase ini anak masih rentan kambuh kecanduannya, sehingga tetap perlu dijauhkan dari perangkat yang dapat memancing ia untuk bermain game lagi, meski itu hanya berupa HP yang ada game-nya.
Saya tidak berpanjang-panjang tentang ini. Saya hanya ingin mengajak Anda semua, juga diri saya sendiri, untuk berhati-hati. Mencegah itu jauh lebih baik daripada mengobatinya sesudah parah.

[..Baca Selengkapnya..]

Membentuk Idealisme Pada Anak

Masa anak-anak adalah masa yang paling tepat untuk menanamkan suatu pemahaman. Bila anak-anak mendapat pemahaman yang benar sejak dini, maka pemahaman tersebut akan mengarahkan perilakunya pada masa yang akan datang. Sebaliknya jika sejak dini anak diberi pemahaman yang salah, maka hal itu juga berpengaruh pada pola pikir dan pola sikap yang akan terbentuk. Di sinilah tanggung jawab dan peran orangtua sangat dibutuhkan dalam proses penanaman pemahaman yang benar pada diri anak agar terbentuk idealisme Islam.

  Membentuk Idealisme Anak

Sebagai konsekuensi dari keyakinan pada akidah Islam, orangtua harus membentuk bangunan keluarganya atas dasar ketaatan kepada Allah SWT. Artinya, orangtua harus membangun pemahaman seluruh anggota keluarganya dalam rangka meraih keridhaan Allah SWT melalui pelaksanaan hukum-hukum syariah. Mengenalkan hukum-hukum Islam kepada anak adalah tugas pertama dan utama orangtua. Orangtualah yang akan memberikan pengaruh terhadap tumbuh dan berkembangnya pemahaman Islam yang utuh terhadap diri anak. Rasulullah saw. bersabda (yang artinya): Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu dan bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani dan Majusi (HR al-Bukhari). 
Satu hal yang penting dan mendasar untuk ditanamkan dalam kehidupan seorang Muslim sejak awal adalah penanaman akidah. Bahkan proses ini harus dimulai sejak anak berada dalam kandungan ibunya melalui lantunan ayat-ayat al-Quran serta doa yang terus dipanjatkan selama masa kehamilan. Selanjutnya, sejak dilahirkan ke dunia, anak harus dibimbing dan diarahkan agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Rabb-nya. Anak dibimbing untuk mengenal Penciptanya agar kelak ia hanya mengabdi kepada Sang Pencipta, Allah SWT. Demikian pula dengan pengajaran perilaku dan budi pekerti anak yang didapatkan dari sikap keseharian orangtua ketika bergaul dengan mereka. Bagaimana ia diajari untuk memilih kalimat-kalimat yang baik, sikap sopan-santun, kasih-sayang terhadap saudara dan orang lain. Mereka diajari untuk memilih cara yang benar ketika memenuhi kebutuhan hidup dan memilih barang halal yang akan mereka gunakan. Kesimpulannya, potensi dasar untuk membentuk sosok yang idealis sebagai bagian dari pembentukan generasi berkualitas dipersiapkan oleh orangtua terutama oleh ibu. Ibu memiliki peran yang sangat vital dalam proses pendidikan anak sejak dini. Ibulah sosok yang pertama kali berinteraksi dengan anak, sosok pertama yang memberi rasa aman, dan sosok pertama yang dipercaya dan didengar omongannya. Karena itu, ibu menjadi sekolah pertama bagi anak anaknya untuk menjadi sosok yang memiliki idealisme. 
Mengarahkan Idealisme Anak 

Pribadi yang memiliki idealisme adalah pribadi tangguh, yang memiliki kepribadian Islam; berpikir islami dan berperilaku dengan standar hukum-hukum Allah SWT. Dengan itu ia mampu mengarungi hidup ini dengan benar dan membawa kemaslahatan. Beberapa hal yang harus ditanamkan orangtua khususnya ibu kepada anaknya dalam rangka membentuk idealisme pada anak di antaranya adalah: 
1. Memahamkan anak bahwa satu-satunya agama yang diridhai Allah dan akan membawa kebahagiaan di dunia dan di akhirat adalah Islam (Lihat: QS Ali Imran [3]: 19). Penanaman pemahaman ini sangat penting agar sejak dini anak hanya menjadikan Islam sebagai satu-satunya agama yang harus diyakini dan diperjuangkan. Dengan begitu anak tidak akan ragu sedikit pun akan kebenaran agama yang dianutnya. Orangtua yang memiliki idealisme tentu tidak akan membiarkan anaknya mencari hakikat kehidupan seorang diri. Ia akan mengarahkan anaknya agar memahami hakikat kehidupan ini sesuai dengan tujuan penciptaan manusia, yakni hanya untuk beribadah kepada Allah SWT. Orangtua juga tidak akan membiarkan anaknya memiliki pemahaman bahwa semua agama itu benar hanya karena sama-sama mengajarkan penyembahan Tuhan meski berbeda caranya. Pendapat seperti ini akan menjadi racun bagi anak dan tidak akan mengokohkan akidah yang kuat pada diri anak, selain bertentangan dengan pemahaman QS Ali Imran ayat 19 di atas. 
2. Menanamkan pada anak bahwa konsekuensi mengimani al-Quran adalah membenarkan semua isinya yang mengandung petunjuk dari Allah SWT untuk keselamatan dan kebahagiaan umat manusia di dunia dan akhirat. Ditanamkan pula kesadaran bahwa bukti mengakui Nabi Muhammad saw. sebagai rasul adalah percaya kepada hadis-hadis beliau. Orangtua bisa mencari contoh syariah yang mudah dicerna oleh mereka, seperti perintah untuk berbakti kepada orangtua, berinfak kepada fakir miskin, larangan mengadu domba sesama Muslim, menipu, dll. Jelaskanlah bahwa di dalam perintah Allah SWT ada yang bersifat wajib atau sunnah, serta dalam larangan Allah SWT ada yang bersifat haram atau makruh berikut konsekuensinya. Tujuannya agar anak memiliki gambaran tentang syariah Islam dan merasa terikat dengannya. 
 3. Memahamkan hakikat baik dan buruk, serta terpuji dan tercela; bahwa kebaikan adalah apa saja yang Allah ridhai, sedangkan keburukan adalah apa saja yang Allah murkai. Yang terpuji adalah apa saja yang dipuji oleh Allah dan Rasul-Nya, sedangkan yang tercela adalah apa saja dicela oleh Allah dan Rasul-Nya. Anak-anak harus selalu dipahamkan bahwa baik-buruk sesuatu itu harus sesuai dengan aturan Allah SWT, dan terpuji tercela sesuatu haruslah apa yang dipuji dan dicela oleh Allah SWT. Perlu disampaikan kepada anak, bahwa sungguh Allah itu Maha Penyayang atas makhluk-Nya, kita tidak perlu bersusah-payah menentukan baik dan buruk sesuatu karena telah ditetapkan oleh Dia. Allah menetapkan, manusia yang berbuat menurut akal pikiran dan hawa nafsunya serta tidak mengikuti aturan-Nya adalah kufur dan ingkar, dan kita harus menjauhi sikap demikian. Dengan pemahaman seperti ini, anak akan terbiasa mengukur dan menimbang setiap perilaku dan pilihan hidupnya sesuai dengan aturan Allah SWT, bukan dengan pertimbangan perasaan apalagi mengikuti perkembangan zaman sekarang yang sudah tidak karuan ini. 
4. Dengan sering melatih proses berpikir Islamnya, pemikiran anak akan semakin meluas. Kemudian seiring perkembangan usianya, orangtua juga bisa mengarahkan pemahaman anak tentang persoalan mendasar yang dihadapi masyarakat saat ini, yaitu tidak adanya penerapan syariah Islam di tengah kehidupan. Selanjutnya orangtua mendorong anak untuk terbiasa melakukan amar makruf nahi mungkar dan bersama-sama berjuang demi tegaknya syariah Islam yang akan menyelesaikan semua persoalan yang ada di masyarakat. 
Idealisme Islam versus Intoleransi? 
Saat orangtua berhasil mencetak anak-anaknya menjadi sosok yang idealis, yang selalu terikat dengan hukum-hukum Allah SWT, berarti orangtua telah berhasil mendidik anaknya sesuai dengan arahan Islam. Betapa bahagianya orangtua yang sukses mengantarkan anaknya menjadi sosok idealis, pejuang Islam yang salih dan konsisten membela kebenaran. Bahkan kebahagiaan orangtua tersebut akan terus mengalir walaupun Allah telah memanggilnya. Keberhasilan membentuk idealisme Islam pada diri anak haruslah menjadi cita-cita bagi setiap orangtua. Untuk itu diperlukan upaya yang sungguh-sungguh pada setiap keluarga Muslim untuk senantiasa mewarnai kehidupan keluarganya dengan warna Islam yang jelas. Dengan begitu, karakter anak yang terbentuk adalah karakter Islam yang jelas, tidak abu-abu, apalagi warna-warni. Sikap orangtua yang seperti ini bukan berarti orangtua mengajarkan anak untuk tidak memiliki sikap toleransi terhadap agama lain atau bahkan dianggap menanamkan kebencian dan kekerasan pada anak. Tuduhan seperti ini tentu tidak bisa dipertanggungjawabkan. Para orangtua Muslim tidak boleh terjebak dengan tuduhan dari kalangan yang antara lain dilontarkan kalangan liberal ini. Orangtua harus tetap istiqamah mengarahkan pendidikan dan pembinaan anak-anaknya agar memiliki idealisme Islam sehingga terbentuk generasi Islam yang berkualitas pada masa yang akan datang. WalLahu a’lam bi ash-shawab.

[..Baca Selengkapnya..]

Jumat, 23 Juli 2010

Metro ROADM


Salah satu Posting Artikel disini pernah dijelaskan Metro Ethernet, kali ini akan saya perkenalkan salah satu teknologi yg banyak berhubungan dg Metro Ethernet. Namanya ROADM. Apa itu...? Silahkan simak...

Teknologi Reconfigurabel Optical Add Drop Multiplexer (ROADM) merupakan pengembangan dari teknologi optik Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM). Perbedaan utama antara ROADM dengan DWDM terletak pada degree atau bahasa awamnya tangan/ cabang dari perangkat OADM yang ada di masing-masing.

Prinsip kerja dasar dari xWDM (DWDM dan Coarse WDM/CWDM) adalah mentransmisikan kombinasi sejumlah panjang gelombang yang berbeda dengan menggunakan perangkat multiplex panjang gelombang optik dalam satu fiber. Pada sisi penerima terjadi proses kebalikannya dimana panjang gelombang tersebut dikembalikan ke sinyal asalnya.

Perangkat OADM berfungsi melakukan add/drop sinyal dalam sistem. Konfigurasi ring, seperti juga pada jaringan SDH, dimaksudkan untuk mengimplementasikan sistem proteksi. Prinsip dasar OADM (dengan topologi ring) adalah:
  • Melakukan multiplexing panjang gelombang.
  • Memiliki kemampuan menurunkan panjang gelombang l (:baca: lamda) di suatu titik, di mana OADM ditempatkan.
  • Memiliki kemampuan add/drop panjang gelombang l (:baca: lamda) di titik OADM.
  • Memiliki sistem cross connect pada satuan l (:baca: lamda).

Utk teknologi ROADM maka degree/ cabang perangkat OADM-nya dapat lebih dari 2 bahkan sekarang ada perangkat ROADM yg sudah memiliki 8 degree/cabang, sedangkan OADM pada DWDM biasanya memiliki 2 - 3 degree/ cabang. Untuk apa sih perlunya banyak degree tersebut, degree tersebut diperlukan jika kita ingin menghubungkan antar node yang berada pada jaringan mesh/ jala sehingga node yang memiliki banyak degree/cabang akan dapat mengakomodasi koneksi ke 8 link/ saluran yang terhubung ke 8 node lainnya. Masih banyak lain yang menjadi titik berbedanya perangkat ROADM dibandingkan dengan perangkat DWDM yang sudah dikenal dewasa ini, termasuk kemampuan mengenal panjang gelombang (lambda) yang asing dari yang dimilikinya, kemampuan mentransmisikan panjang gelombang, software manajemen utk provisioning panjang gelombang dan jaringan, dll.

Biasanya Ada beberapa pertimbangan umum yg dipakai sebelum menentukan platform/vendor pabrikan yang berhubungan dengan kapasitas, fungsi, operasi, spesifikasi fisik, transmisi.
    Physical Specs and Protection
  • Footprint
  • Power Consumption
  • Interface Slots per Shelf
  • Sparing Options
  • Network Protection
  • Equipment Protection
    Transmission Characteristics
  • Spectrum and Channel Plan
  • Number of Wavelengths
  • Transmission Distance
  • Maximum Node Suppor
  • Fiber Types Supported
  • Alien Wavelength Support
    Service Functionality
  • STM/OC-N Support
  • Ethernet Support
  • Protocol Support
  • VCAT, GFP, LCAS Support
  • ROADM Technology
  • ROADM Implementation
    Capacity and Density
  • System Capacity
  • Common Equipment Footprint
  • STM/OC-N Port Density
  • Ethernet Port Density
  • SAN Port Density
  • Sub-rate Muxing
    Operations
  • Control Plane
  • Network Management
  • OSS/BSS Interfaces
  • Performance Monitoring
  • Power Balancing Technology
    Physical Attributes
  • Dimensions (English and Metric)
  • Environmental Certifications
  • Power Input Requirements
  • Power Consumption
  • Shelves/Rack
    Function and Role in Solution
  • Platform and Solution
  • Equivalent Network Functionality
  • Architecture
    Topology and Distance
  • Topologies Supported
  • Single Span Distance
  • Ring Circumference
  • Maximum Nodes
    Capacity
  • Wavelengths/Fiber Pair
  • Wavelengths/Shelf, Wavelengths/System
  • Line Rates Supported
  • System Capacity
  • No. Chassis for Max. Configuration
  • Interface Slots per Shelf
    Spectrum
  • Spectrum Bands Used
  • Channel Spacing Grid
    Fiber Requirements
  • Supported Fiber Types
    Optics
  • Client Optics
  • Line Optics
  • Tunability
    Client Interfaces
  • Multirate SONET/SDH Client Side Interface Cards
  • Subrate Multiplexing Client Side Interface Cards
  • ADM Multiplexing Transponders
  • Gigabit Ethernet Multiplexing Transponders
  • OC-192 Ports/Chassis
  • OC-48 Ports/Chassis
  • OC-12 Ports/Chassis
  • OC-3 Ports/Chassis
  • 10 GbE Ports/Chassis
  • GbE Ports/Chassis
  • DS3 Ports/Chassis
  • ESCON/FICON/Fibre Channel Ports/Chassis
    Management
  • Control Plane Support
  • Optical Supervisory Channel
  • Element/Network Management System
  • Network Modeling Tools
  • OSMINE Certifications
  • OSS Interfaces
  • Performance Monitoring
    Features
  • ROADM, ADM Capabilities
  • Wavelength Blocker/Selective Switch
  • Cross Connect Functionality
  • Ring Support
  • Optical Channel Monitor
  • Dynamic Power Equalization
  • Hot-swappable Modules
  • Integrated Optics
  • Card Sharing
  • Scalability
  • Software Release
    Technologies
  • Amplification
  • Forward Error Correction
  • Dispersion Compensation
  • Digital Wrapper
  • GFP Support
  • LCAS Support
  • VCAT Support
  • Tributary Protection
  • Per Wavelength Protection
  • Line Protection
  • Single Fiber Working Capabilites
  • Transient Control

Masih penasaran....?
Tunggu di postingan berikutnya....:)


[..Baca Selengkapnya..]

Senin, 18 Januari 2010

Untuk AKU dan KALIAN


Jikalah DERITA akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dijalani dengan sepedih rasa,
Sedang KETEGARAN akan lebih indah dikenang nanti.

Jikalah KESEDIHAN akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa tidak DINIKMATI saja,
Sedang ratap tangis tak akan mengubah apa-apa.

Jikalah LUKA dan KECEWA akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dibiarkan meracuni jiwa,
Sedang KETABAHAN dan KESABARAN adalah lebih utama.

Jikalah KEBENCIAN dan KEMARAHAN akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti diumbar sepuas jiwa,
Sedang MENAHAN DIRI adalah lebih berpahala.

Jikalah KESALAHAN akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti tenggelam di dalamnya,
Sedang TAUBAT itu lebih utama.

Jikalah HARTA akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti ingin dikukuhi sendiri,
Sedang KEDERMAWANAN justru akan melipat gandakannya.

Jikalah KEPANDAIAN akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti membusung dada dan membuat kerusakan di dunia,
Sedang dengannya manusia diminta MEMIMPIN dunia agar sejahtera.

Jikalah CINTA akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti ingin memiliki dan selalu bersama,
Sedang MEMBERI akan lebih banyak menuai arti.

Jikalah BAHAGIA akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti dirasakan sendiri,
Sedang BERBAGI akan membuatnya lebih bermakna.

Jikalah HIDUP akan menjadi masa lalu pada akhirnya,
Maka mengapa mesti diisi dengan kesia-siaan belaka,
Sedang begitu banyak KEBAIKAN bisa DICIPTA.

.:Sekedar Curhat,saat Kalut:.


[..Baca Selengkapnya..]

Kamis, 24 Desember 2009

MeRaIh KEBAHAGIAAN



Banyak orang yang selalu resah dan gelisah dalam hidupnyadan tidak pernah mendapatkan KEBAHAGIAAN dalam hidupnya....

Kebahagiaan itu sebenarnya tidak perlu dicari...., Kebahagiaan itu ada dalam diri kita sendiri. Kita dapat belajar untuk menemukannya. Tahukah Kita mengapa semakin banyak pertanyaan kita mengenai kebahagiaan, semakin lama pula waktu yang kita perlukan untuk mencapai kebahagiaan?

Lantas, bagaimana cara kita mendapatkan kebahagiaan?
Kebahagiaan hanya akan dicapai kalau kita mau melakukan perjalanan KE DALAM.
Namun, itu semua tidak dapat kita peroleh dengan cuma-cuma.Kita harus mau MEMBAYAR HARGANYA.

Agar lebih mudah kita gunakan analogi sebuah toko. Nama toko itu adalah "TOKO KEBAHAGIAAN". Di sana tidak ada barang yang bernama "Kebahagiaan" karena "Kebahagiaan" itu sendiri TIDAK DIJUAL.

Tetapi, toko ini menjual semua barang yang merupakan unsur-unsur pembangun kebahagiaan, antara lain:

  • KESABARAN,

  • KEIKHLASAN,

  • RASA SYUKUR,

  • KASIH SAYANG,

  • KEJUJURAN,

  • KEPASRAHAN KEPADA TUHAN dan

  • RELA MEMAAFKAN.

Inilah "barang-barang" yang Kita perlukan untuk mencapai kebahagiaan. Tetapi, berbeda dari toko biasa, toko ini tidak menjual produk jadi. Yang dijual di sini adalah BENIH.

Jadi, kalau Kita tertarik untuk Membeli "Kesabaran", Kita hanya akan mendapatkan "Benih Kesabaran". Karena itu, segera setelah Kita pulang ke rumah, Kita harus Berusaha Keras untuk Menumbuhkan Benih tersebut sampai ia menghasilkan BUAH KESABARAN.

Setiap benih yang Kita beli di toko tersebut mengandung sejumlah persoalan yang harus Kita pecahkan. Hanya bila Kita MAMPU memecahkan/mengatasi persoalan tersebut, Kita akan menuai buahnya.

Benih yang dijual di toko itu juga bermacam-macam tingkatannya.
  • "Kesabaran Tingkat 1,"
    misalnya, berarti menghadapi kemacetan lalu lintas atau pengemudi bus yang ugal-ugalan.

  • "Kesabaran Tingkat 2"
    berarti menghadapi orang yang sewenang-wenang atau orang yang suka memfitnah.

  • "Kesabaran Tingkat 3"
    misalnya, adalah menghadapi keluarga Kita yang sendiri.

Menu yang lain misalnya "BERSYUKUR"
  • "Bersyukur Tingkat 1"
    adalah bersyukur di kala SENANG,

  • "Bersyukur Tingkat 2"
    adalah bersyukur di kala SUSAH.

Tingkatan menu yang berhubungan dengan "KEJUJURAN" juga bermacam-macam
  • "KEJUJURAN Tingkat 1,"
    misalnya,kejujuran dalam Kondisi Biasa,

  • "Kejujuran Tingkat 2"
    adalah kejujuran dalam Kondisi TERANCAM.

Inilah sebagian produk yang dapat dibeli di "Toko Kebahagiaan". Setiap produk yang dijual di toko tersebut Berbeda-beda Harganya sesuai dengan KUALITAS KARAKTER yang Ditimbulkannya.
Yang TERMAHAL ternyata adalah "KESABARAN", karena kesabaran ini merupakan Bahan Baku dari Segala Macam Produk yang Dijual di sana.

Seorang Filsuf pernah mengatakan,

"Apa yang Kita Peroleh dengan TERLALU MUDAH PASTI KURANG Kita HARGAI. Hanya Harga yang MAHAL-lah yang Memberi NILAI kepada SEGALANYA. Tuhan Tahu Bagaimana MEMASANG Harga yang Tepat pada Barang-barangnya."


Dengan cara pandang seperti ini kita akan menghadapi masalah secara berbeda.
Kita akan Bersahabat dengan Masalah. Kita pun akan Menyambut Setiap Masalah yang Ada dengan Penuh KEGEMBIRAAN karena Dalam Setiap Masalah Senantiasa Terkandung "OBAT dan VITAMIN" yang Sangat Kita Butuhkan. Dengan demikian Kita akan BERTERIMA KASIH kepada Orang-orang yang Telah Menyusahkan Kita, karena Mereka Memang "diutus" untuk Membantu Kita. Misalnya :
  • "Pengemudi yang ugal-ugalan, orang yang jahat, orang yang sewenang-wenang adalah Peluang untuk MEMBENTUK Kesabaran."

  • "Penghasilan yang Pas-pasan adalah peluang untuk MENUMBUHKAN RASA SYUKUR."

  • "Suasana yang Ribut dan Gaduh adalah Peluang untuk MENUMBUHKAN KONSENTRASI.",

  • "Orang-orang yang TAK TAHU BERTERIMA KASIH adalah Peluang untuk Menumbuhkan PERASAAN KASIH Tanpa Syarat."

  • "Orang-orang yang MENYAKITI Kita adalah Peluang untuk MENUMBUHKAN Kualitas RELA MEMAAFKAN."

Sebagai penutup Marilah kita Renungkan ungkapan berikut :

"Aku memohon Kekuatan dan,
Tuhan memberiku Kesulitan-kesulitan untuk Membuatku KUAT."

"Aku memohon Kebijaksanaan dan,
Tuhan memberiku Masalah untuk Diselesaikan."

"Aku memohon Kemakmuran dan,
Tuhan memberiku TUBUH dan OTAK untuk Bekerja."

"Aku memohon Keberanian dan,
Tuhan memberiku berbagai BAHAYA untuk aku Atasi."

"Aku memohon Cinta dan
Tuhan memberiku Orang-orang yang Bermasalah untuk Aku Bantu."

"Aku mohon Berkah dan
Tuhan memberiku berbagai Kesempatan."

"Aku Tidak Memperoleh Apapun yang Aku Inginkan,
tetapi Aku MENDAPATKAN Apapun yang Aku BUTUHKAN."

[..Baca Selengkapnya..]